Tamparan di SPBU: Kisah Rizka Alpiah, Petugas yang Diserang Emak-Emak Gara-Gara Jalur Isi Bensin

SPBU
Tamparan di SPBU: Kisah Rizka Alpiah, Petugas yang Diserang Emak-Emak Gara-Gara Jalur Isi Bensin

TIMETODAY.ID — Di balik kesibukannya melayani pelanggan, seorang petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Bekasi, Rizka Alpiah, harus menghadapi insiden tak terduga. Bukan hanya sekadar adu argumen dengan pelanggan, tetapi tamparan yang mendarat di wajahnya menjadi bukti bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan dalam situasi sehari-hari.

Awal Mula Kejadian: Jalur Kosong yang Tidak Dijaga

Peristiwa ini terjadi di SPBU Pertamina yang berlokasi di Jalan Karangsatria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Hari itu, Rizka tengah bertugas seperti biasa, memastikan antrean kendaraan berjalan lancar.

Seorang perempuan pengendara motor Honda Beat merah tiba-tiba masuk ke jalur pengisian bahan bakar yang sebenarnya tidak dijaga petugas. Saat itu, salah satu jalur memang sedang ditutup karena rekan kerja Rizka tengah beristirahat.

Advertisement

“Biasanya memang di kami itu buka jalur kiri dan kanan, karena teman saya lagi istirahat, jadi ditutup satu,” ujar Rizka, dikutip dari Tribun Jakarta, Kamis (20/3/2025).

Sebagai petugas yang bertanggung jawab, Rizka meminta perempuan itu untuk berpindah ke jalur lain yang sedang dia jaga. Permintaan sederhana itu justru menjadi pemicu konflik.

Baca Juga :  Demi Keselamatan, Pemkot Bogor Siapkan Penutupan Tiga Perlintasan KA

Dari Gerutuan Hingga Tamparan

Awalnya, perempuan tersebut menolak pindah, namun akhirnya menurut setelah beberapa kali dibujuk. Meski begitu, ia tetap menggerutu sepanjang waktu, merasa dipersulit oleh aturan di SPBU.

“Si ibu masih ngoceh aja, kan bisa bolak-balik,” kata Rizka menirukan ucapan perempuan itu.

Dengan sabar, Rizka menjelaskan bahwa setiap jalur memiliki petugas masing-masing dan tidak bisa digunakan sembarangan.

Saat akhirnya perempuan itu mendapat giliran mengisi bahan bakar, gerutuan tidak juga berhenti. Bahkan, ia sempat menuduh Rizka memberikan pelayanan yang tidak sopan.

“‘Kamu kerja yang sopan!’ katanya. Saya bilang, saya kurang sopan apa? Saya kan sudah jelasin, di situ enggak ada karyawannya,” ujar Rizka.

Suasana makin panas ketika proses pengisian selesai. Alih-alih segera pergi, perempuan itu tetap berdiam di tempat, memperlambat antrean. Rizka yang sudah merasa kesal, hanya bisa menghela napas panjang sebagai bentuk kesabaran.

Namun, hal tak terduga terjadi. Rupanya, helaan napas Rizka dianggap sebagai bentuk penghinaan oleh perempuan itu. Tanpa aba-aba, perempuan tersebut kembali dan langsung menampar wajah Rizka.

Baca Juga :  Pertamina Sesuaikan Harga BBM Maret 2026, Simak Daftar Lengkapnya

“Saya menghela napas, lalu dia pergi. Tapi dia enggak terima helaan napas saya, balik lagi, terus nabok muka saya,” ungkap Rizka.

Laporan Polisi dan Jalan Damai

Usai kejadian, Rizka segera melaporkan insiden tersebut ke pihak kepolisian. Namun, menurut petugas, kasus ini masuk dalam kategori tindak pidana ringan. Oleh karena itu, polisi menyarankan agar permasalahan diselesaikan melalui jalur musyawarah.

“Udah lapor polisi, cuma ini kekerasan ringan, jadi dimusyawarahkan aja,” kata Rizka.

Meski demikian, insiden ini meninggalkan luka batin bagi Rizka dan menjadi pengingat bahwa para pekerja layanan publik sering kali menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari pelanggan.

Di balik tamparan yang diterimanya, ada sebuah refleksi penting: bahwa rasa hormat dan kesabaran harus tetap dijaga dalam setiap interaksi, terutama di tempat-tempat yang melibatkan layanan publik.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel