Perjuangan Marika Berburu Gas 3 Kilogram: Dari Kampung ke Kampung, Pulang dengan Tangan Kosong

Marika
Marika (37), warga Cirimekar RT 05/04, Kecamatan Cibinong, Ka bupaten Bogor, Jawa Barat berburu gas LPG 3 kilogram. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Pagi itu, Marika (37) bergegas keluar rumah dengan harapan bisa mendapatkan satu tabung gas untuk kebutuhan dapurnya. Namun, setelah berjam-jam berjalan dari satu warung ke warung lain, ia pulang dengan tangan hampa. Wajahnya lelah, bukan hanya karena tenaga yang terkuras, tetapi juga karena rasa putus asa yang mulai menyelinap di hatinya.

“Saya sudah mencari ke mana-mana, dari ujung kampung ke kampung lain, tapi belum juga mendapatkan gas,” tutur Marika pasrah, Selasa (4/2/2025).

Sejak kebijakan baru mengenai distribusi gas diberlakukan, kehidupan Marika dan banyak warga lainnya berubah drastis. Mereka harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan gas subsidi yang kini semakin sulit ditemukan.

Advertisement

Tak hanya itu, pembelian kini mewajibkan pembeli menunjukkan KTP sebagai bukti domisili, sementara stok yang tersedia pun terbatas.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Lukmanudin Ar Rasyid Minta Tinjau Ulang Larangan Penjualan Gas LPG 3 Kg oleh Pengecer

“Saya bahkan harus menunggu agen turun dan harus siap menunjukkan KTP, karena stok gas sangat terbatas,” lirihnya sambil menghela napas panjang.

Bagi Marika, kelangkaan gas jauh lebih menyulitkan dibandingkan kenaikan harga. Baginya, yang terpenting adalah ketersediaan gas, berapa pun harga yang harus dibayarkan. Namun, jika barangnya tidak ada, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan dapur?

“Harga mahal boleh, tapi gas jangan langka. Masyarakat pasti akan membeli gas kalau memang tersedia. Tapi kalau langka, nasib kami bagaimana?” keluhnya.

Kelangkaan ini bukan hanya sekadar masalah ketiadaan gas untuk memasak, tetapi juga tentang keberlangsungan hidup banyak keluarga.

Tak sedikit warga yang mengandalkan gas sebagai sumber utama untuk menjalankan usaha kecil mereka, seperti warung makan atau usaha gorengan. Tanpa gas, roda ekonomi kecil pun ikut terhenti.

Baca Juga :  DPR Naik Gaji, Rakyat Naik Pitam

Di tengah kebingungannya, Marika berharap pemerintah bisa memahami kesulitan yang dihadapi masyarakat kecil seperti dirinya. Kebijakan yang diterapkan seharusnya mempermudah, bukan justru menambah beban.

“Tolonglah dipermudah, jangan mempersulit masyarakat lagi,” harapnya.

Di balik kebijakan yang dibuat di atas meja, ada wajah-wajah seperti Marika yang setiap hari berjuang agar dapur mereka tetap mengepul. Bagi mereka, gas bukan sekadar barang dagangan, gas adalah napas bagi kehidupan sehari-hari mereka.

Reporter : Amelia Azizah.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

 

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel