TIMETODAY.ID, BOGOR – Kabupaten Bogor meluncurkan program unggulan sekolah pranikah sebagai langkah strategis untuk menekan angka stunting dan pernikahan dini. Penjabat (Pj) Bupati Bogor, Bachril Bakri, optimis program ini menjadi solusi efektif dalam mengatasi dua isu utama tersebut.
Bachril menjelaskan, tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Bogor menjadi salah satu faktor penyumbang kasus stunting di wilayah ini.
“Dengan sekolah pranikah, angka pernikahan dini dapat ditekan, sehingga berkontribusi langsung terhadap penurunan angka stunting,” ujarnya.
Program ini dirancang untuk diterapkan di seluruh kecamatan secara masif pada tahun ini. Selain itu, Pemkab Bogor berharap inisiatif ini menjadi model yang dapat diadaptasi oleh daerah lain.
Selain sekolah pranikah, Kabupaten Bogor juga menjalankan program Rumah Cegah Stunting (Ceting), yang memberikan asupan gizi tambahan dan vitamin kepada anak-anak stunting selama 30 hari di kecamatan-kecamatan.
“Langkah ini menunjukkan keseriusan kami dalam menekan angka stunting,” tambah Bachril.
Dosen IPB University, Yulina Eva Riany, yang turut terlibat dalam program ini, menegaskan bahwa sekolah pranikah bertujuan mempersiapkan generasi muda agar matang secara mental dan emosional sebelum memutuskan menikah.
“Program ini bukan untuk mendorong pernikahan dini, tetapi untuk membantu mereka mengambil keputusan yang tepat kapan menikah,” jelas Yulina.
Ada 12 materi yang diberikan, meliputi pemahaman agama, bahaya pernikahan di bawah usia 19 tahun, pengasuhan, komunikasi, dan interaksi dalam pernikahan. Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan kewirausahaan dan life skills agar mampu memanfaatkan media digital untuk menjadi kreator konten yang produktif.
“Tujuannya adalah menciptakan generasi muda yang berdaya dan tidak hanya memikirkan ingin segera menikah,” tambah Yulina.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini, mengungkapkan selain faktor ekonomi, kehamilan di luar nikah menjadi penyebab signifikan pernikahan dini.
Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan pengaruh pergaulan meningkatkan risiko perilaku seksual di luar nikah.
“Sekolah pranikah ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan pemahaman yang komprehensif,”
Selain menekan pernikahan dini, program ini juga memperkuat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan membentuk anak sebagai agen perubahan. ***




































