Peneliti Ungkap Kebiasaan Mengupil Berisiko Memicu Alzheimer, Kok Bisa?

Mengupil
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID – Mengupil sering dianggap sebagai kebiasaan yang tidak berbahaya. Namun, penelitian dari Griffith University di Queensland, Australia, menunjukkan bahwa aktivitas ini dapat membahayakan otak.

Dilansir dari Medical News Today, kebiasaan mengupil dapat menjadi faktor risiko signifikan dalam perkembangan penyakit Alzheimer.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Scientific Reports menunjukkan bahwa ketika rongga hidung tikus dirusak, bakteri memiliki kemungkinan untuk masuk ke otak melalui saraf penciuman.

Advertisement

Begitu bakteri memasuki otak, mereka dapat merangsang pengendapan protein beta amiloid, yang dikenal sebagai salah satu penyebab penyakit Alzheimer.

Protein ini membentuk plak yang dikaitkan dengan gejala Alzheimer, seperti gangguan ingatan, kesulitan berbahasa, hingga perilaku yang tidak biasa.

Saraf penciuman berfungsi sebagai jalur langsung dari rongga hidung menuju otak. Penelitian mengungkapkan bahwa bakteri dapat melewati sawar darah-otak yang biasanya melindungi otak dari infeksi.

Baca Juga :  Mengenal Bahaya Cs-137: Dari Paparan Ringan hingga Risiko Kanker

Dalam studi pada tikus, ditemukan bahwa bakteri Chlamydia pneumoniae, yang umumnya menyebabkan infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, dapat menggunakan jalur ini untuk mencapai sistem saraf pusat.

Sebagai respons terhadap invasi bakteri ini, sel-sel di otak memproduksi protein beta amiloid yang kemudian membentuk plak khas Alzheimer.

Penelitian ini dipimpin oleh Prof. James St John dari Clem Jones Centre for Neurobiology and Stem Cell Research, Griffith University.

Ia menjelaskan bahwa temuan ini memberikan petunjuk baru tentang bagaimana Chlamydia pneumoniae dapat memicu patologi Alzheimer.

“Penelitian lain telah menunjukkan keberadaan bakteri ini dalam plak Alzheimer pada manusia melalui analisis post-mortem. Namun, mekanisme bagaimana bakteri tersebut mencapai otak belum jelas,” ungkap Prof. St John kepada Medical News Today.

Menurutnya, hasil studi ini memberikan bukti bahwa bakteri tersebut mampu dengan cepat bergerak melalui saraf penciuman, memicu proses patologis yang mirip Alzheimer.

Baca Juga :  8 Cacing Paling Umum Menginfeksi Manusia, Ada yang Nyaris Tak Terlihat

Penelitian ini melengkapi berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara infeksi patogen dan demensia.

Sebuah studi pada 2008 menyebutkan bahwa infeksi C. pneumoniae dapat memicu Alzheimer pada usia lanjut.

Sementara itu, penelitian lain pada 2010 menemukan keterkaitan antara bakteri ini dengan endapan amiloid dan jalinan neurofibrilar dalam otak.

Prof. St John juga menambahkan bahwa bukan hanya C. pneumoniae yang dapat memicu Alzheimer.

“Beberapa mikroorganisme lain, seperti virus herpes simpleks, juga diduga berperan. Penyakit ini mungkin dipicu oleh kombinasi mikroba dan faktor genetik. Tidak semua orang yang memiliki bakteri atau virus di otaknya terkena Alzheimer, sehingga kemungkinan ada faktor tambahan yang menyebabkan penyakit ini,” jelasnya. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel