Demi Warga Lokal, 10 Kota Wisata Terkenal Ini Mulai Menekan Arus Turis

Pariwisata
ilustrasi amsterdam, belanda. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTAPariwisata selama ini menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi di banyak negara. Namun di balik manfaatnya, lonjakan jumlah wisatawan juga memunculkan persoalan baru yang dikenal sebagai overtourism atau kondisi ketika destinasi menerima kunjungan wisata melebihi kapasitas yang ideal.

Dampaknya tidak hanya terasa pada kepadatan kawasan wisata, tetapi juga mengancam lingkungan, membebani infrastruktur, hingga mengganggu kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, sejumlah kota di berbagai belahan dunia mulai menerapkan aturan khusus untuk mengendalikan arus wisatawan.

Berikut sejumlah kota yang mengambil langkah pembatasan kunjungan guna menjaga keseimbangan antara sektor pariwisata dan kualitas hidup warga lokal.

Advertisement

1. Amsterdam, Belanda

Kota yang terkenal dengan kanal-kanalnya ini mulai memperketat pengelolaan pariwisata. Pemerintah setempat berencana mengurangi jumlah kapal pesiar yang beroperasi, menghentikan pembangunan hotel baru, serta menekan pertumbuhan jumlah wisatawan tahunan.

Selain itu, kampanye khusus juga digencarkan untuk menertibkan perilaku wisatawan yang dinilai mengganggu ketertiban kota.

2. Barcelona, Spanyol

Sebagai salah satu destinasi paling populer di Eropa, Barcelona menghadapi tekanan besar akibat membludaknya wisatawan. Pemerintah kota merespons dengan menaikkan pajak wisata bagi tamu hotel berbintang serta membatasi jumlah kapal pesiar yang dapat bersandar.

Sejumlah akses menuju lokasi wisata favorit juga mulai diatur guna mengurangi kepadatan pengunjung.

Baca Juga :  Awal 2026 Ekonomi RI Menguat, BPS Catat Pertumbuhan Capai 5,61 Persen

3. Seoul, Korea Selatan

Di kawasan bersejarah Bukchon Hanok Village, pemerintah menerapkan pembatasan jam kunjungan bagi wisatawan.

Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan warga yang tinggal di lingkungan tradisional tersebut sekaligus melindungi kawasan budaya dari tekanan wisata berlebihan.

4. Venice, Italia

Kota kanal yang ikonik ini memperkenalkan biaya masuk harian bagi wisatawan yang datang tanpa menginap. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi lonjakan kunjungan satu hari yang selama ini menjadi penyebab utama kepadatan di pusat kota.

5. Kyoto, Jepang

Pemerintah Kyoto meningkatkan tarif pajak penginapan sebagai bagian dari strategi pengendalian wisatawan.

Dana yang diperoleh digunakan untuk pelestarian situs budaya, peningkatan fasilitas umum, serta menjaga kualitas pengalaman wisata di kota bersejarah tersebut.

6. Athens, Yunani

Pengelola kawasan Acropolis menerapkan sistem kuota harian dan reservasi waktu kunjungan.

Pembatasan ini dilakukan untuk melindungi situs bersejarah yang menjadi simbol peradaban Yunani dari kerusakan akibat tingginya jumlah pengunjung.

7. Dubrovnik, Kroasia

Kota tua Dubrovnik memberlakukan sejumlah aturan ketat bagi wisatawan. Pengunjung dapat dikenai sanksi apabila mengenakan pakaian renang di area tertentu, makan di dekat bangunan bersejarah, atau melakukan aktivitas yang dianggap mengganggu ketertiban umum.

Baca Juga :  Kisah di Balik Mint Chocolate Chip, Varian Es Krim yang Bikin Pro dan Kontra

8. Portofino, Italia

Portofino menerapkan aturan unik yang sempat menarik perhatian dunia. Wisatawan yang berhenti terlalu lama untuk berfoto atau berswafoto di titik-titik tertentu berisiko dikenakan denda.

Aturan tersebut dibuat untuk mencegah kemacetan pejalan kaki di kawasan yang memiliki ruang terbatas.

9. Malaga, Spanyol

Pemerintah Malaga mulai membatasi pertumbuhan properti sewa jangka pendek di sejumlah kawasan permukiman.

Langkah ini diambil untuk mengatasi persoalan perumahan yang semakin sulit dijangkau warga akibat meningkatnya jumlah akomodasi wisata.

10. Santorini, Yunani

Pulau yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya ini mulai mengendalikan kunjungan wisata kapal pesiar. Pemerintah Yunani juga memberlakukan pungutan khusus bagi penumpang kapal pesiar yang datang pada musim liburan puncak.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap infrastruktur dan lingkungan pulau yang memiliki kapasitas terbatas.

Wisata Bertanggung Jawab Jadi Kunci

Fenomena overtourism menunjukkan bahwa popularitas sebuah destinasi tidak selalu membawa dampak positif. Karena itu, berbagai kota kini berupaya menyeimbangkan kebutuhan industri pariwisata dengan pelestarian lingkungan, budaya, serta kenyamanan warga lokal.

Bagi wisatawan, memahami dan mematuhi aturan yang berlaku di setiap destinasi menjadi bagian penting dari praktik wisata yang bertanggung jawab, sehingga keindahan tempat-tempat tersebut tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel