TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang tua yang langsung menganggap anak nakal atau keras kepala ketika sering membantah. Padahal, di balik perilaku tersebut, ada berbagai faktor perkembangan dan kondisi emosional yang kerap luput disadari.
Membantah tidak selalu berarti anak ingin melawan. Dalam banyak kasus, sikap tersebut justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang saat anak mulai mengenal identitas, pendapat, dan keinginannya sendiri.
Berikut sejumlah alasan yang dapat menyebabkan anak sering membantah orang tua.
1. Anak mulai belajar memiliki pendapat sendiri
Seiring bertambahnya usia, anak mulai memahami bahwa dirinya memiliki pandangan dan keinginan yang berbeda dengan orang lain, termasuk orang tua.
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed menyebutkan bahwa perlawanan anak terhadap aturan dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi otonomi. Artinya, anak tidak selalu sedang menolak, tetapi sedang belajar menyampaikan pendapat dan menunjukkan bahwa ia juga memiliki suara.
2. Memasuki usia 9-13 tahun, anak lebih kritis terhadap aturan
Masa akhir sekolah dasar hingga awal remaja menjadi periode ketika anak mulai mempertanyakan berbagai aturan yang selama ini diterimanya.
Berdasarkan jurnal yang diterbitkan MDPI, rentang usia 9-13 tahun merupakan fase ketika anak mulai lebih sadar terhadap ruang pribadi, rasa keadilan, dan kehendaknya sendiri.
Pada tahap ini, anak tidak lagi sekadar mengikuti aturan, tetapi mulai bertanya mengenai alasan di balik aturan tersebut dan apakah menurutnya aturan itu masuk akal atau adil.
3. Aturan dianggap terlalu sepihak
Anak juga berpotensi lebih sering membantah jika merasa tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
Kondisi ini bisa terjadi ketika orang tua lebih banyak memberi perintah atau larangan tanpa penjelasan yang memadai. Akibatnya, anak merasa tidak didengar sehingga lebih mudah menunjukkan sikap penolakan.
4. Ingin memiliki kendali atas dirinya sendiri
Sebagian besar anak membutuhkan ruang untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, meski dalam batas tertentu.
Keinginan untuk merasa memiliki kontrol terhadap keputusan yang menyangkut dirinya dapat memunculkan bantahan ketika anak merasa semua hal telah ditentukan oleh orang tua.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dukungan terhadap otonomi anak dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat antara orang tua dan anak, sekaligus membuat anak merasa lebih dihargai.
5. Kemampuan mengelola emosi belum matang
Tidak seperti orang dewasa, anak masih belajar mengenali dan mengendalikan emosinya.
Ketika merasa lelah, kecewa, lapar, atau tidak dipahami, anak dapat meluapkan perasaannya melalui bantahan. Kalimat yang terdengar menentang bagi orang tua bisa jadi merupakan cara anak mengekspresikan ketidaknyamanan yang sedang dirasakannya.
6. Sedang stres atau kelelahan
Faktor fisik dan mental juga dapat memengaruhi perilaku anak. Kurang tidur, terlalu lama menatap layar gawai, lapar, atau kelelahan akibat aktivitas yang padat dapat membuat anak lebih mudah tersinggung dan membantah.
Dalam kondisi seperti ini, nasihat panjang sering kali tidak efektif karena anak sedang kesulitan menerima arahan dengan baik. Orang tua disarankan lebih dulu memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sebelum memberikan penjelasan atau aturan.
7. Bisa menjadi tanda gangguan perilaku tertentu
Meski tergolong normal dalam batas tertentu, perilaku membantah yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari tetap perlu mendapat perhatian.
Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), Oppositional Defiant Disorder (ODD) merupakan pola perilaku menentang, tidak kooperatif, dan bermusuhan terhadap figur otoritas yang terjadi secara berulang.
Sementara itu, Mayo Clinic menyebut ODD dapat ditandai dengan perilaku sering marah, mudah tersinggung, gemar berdebat, menolak aturan, hingga kerap menyalahkan orang lain. Namun, tidak semua anak yang suka membantah mengalami gangguan tersebut. Diagnosis tetap harus dilakukan oleh tenaga profesional.
Pada akhirnya, anak yang membantah belum tentu sedang melawan orang tua. Bisa jadi mereka sedang belajar mengenali diri sendiri, mencari batasan, atau berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu diungkapkan dengan cara yang tepat. Karena itu, di balik setiap bantahan, orang tua perlu melihat lebih jauh apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh anak.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































