Aman atau Tidak? Ini Fakta SLS dalam Produk Perawatan Tubuh Sehari-hari

SLS
ilustrasi Sodium Lauryl Sulfate. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sodium Lauryl Sulfate (SLS) merupakan salah satu bahan kimia yang umum digunakan dalam berbagai produk pembersih, mulai dari sabun mandi, sampo, hingga pasta gigi. Zat ini berperan sebagai surfaktan yang membantu menyatukan air dan minyak, sehingga kotoran lebih mudah terangkat saat proses pembersihan.

Dalam praktiknya, SLS juga menghasilkan busa yang melimpah saat produk digunakan. Busa inilah yang sering diasosiasikan dengan efektivitas pembersih dalam mengangkat minyak dan kotoran di kulit maupun rambut.

Peran SLS dalam Produk Pembersih

Secara fungsi, SLS membantu mencampurkan air dan minyak yang secara alami sulit bersatu. Kombinasi ini penting dalam formulasi sabun maupun sampo agar produk dapat bekerja optimal membersihkan kulit, wajah, dan rambut.

Advertisement

Bahan ini tergolong aman digunakan dalam kadar tertentu karena telah diatur oleh otoritas pengawas seperti BPOM. Dengan penggunaan sesuai aturan, SLS dinilai masih aman untuk kebutuhan sehari-hari.

Potensi Risiko pada Kulit Sensitif

Meski umum digunakan, SLS tidak selalu cocok untuk semua orang. Pada sebagian individu, terutama dengan kulit sensitif atau kondisi kulit tertentu, bahan ini dapat memicu iritasi.

Baca Juga :  Bukan Cuma DBD! Kenali Jenis Nyamuk dan Penyakit yang Dibawanya

Gejala yang muncul bisa berupa kulit kemerahan, terasa kering, gatal, hingga mengelupas. Dalam beberapa kasus, penggunaan berulang juga dapat mengganggu lapisan pelindung kulit atau skin barrier, sehingga kulit menjadi lebih rentan terhadap iritasi.

Efek serupa juga dapat terjadi pada kulit kepala dan rambut. Sampo dengan kandungan SLS berpotensi mengurangi minyak alami rambut, yang membuat rambut terasa lebih kering.

Dampak pada Keseimbangan Kulit

Selain iritasi, penggunaan SLS dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme alami di kulit. Kondisi ini berpotensi membuat kulit lebih kering dan sensitif terhadap faktor lingkungan.

Pada beberapa studi, kandungan SLS dalam produk seperti pasta gigi juga dikaitkan dengan munculnya sariawan pada sebagian orang, meski efek ini tidak dialami semua pengguna.

Cara Mengurangi Risiko Paparan SLS

Bagi pengguna yang tetap menggunakan produk dengan kandungan SLS, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan efek negatifnya. Salah satunya adalah menyesuaikan produk dengan jenis kulit atau rambut, serta tidak membiarkan produk terlalu lama menempel di kulit.

Baca Juga :  Rahasia Rambut Lembut untuk Pria: Perawatan, Pola Hidup, dan Nutrisi

Setelah mencuci wajah atau mandi, kulit disarankan segera dibilas bersih dan dilanjutkan dengan penggunaan pelembap untuk menjaga hidrasi. Untuk rambut, penggunaan kondisioner dapat membantu mengembalikan kelembapan alami.

Bagi pemilik kulit sensitif, pilihan produk berlabel “non-SLS” bisa menjadi alternatif yang lebih aman. Beberapa bahan seperti gliserin, ceramide, lidah buaya, hingga asam hialuronat sering digunakan sebagai pengganti untuk menjaga kelembapan kulit.

Selain itu, uji alergi sederhana juga dapat dilakukan sebelum memakai produk baru, dengan mengoleskannya pada area kulit tertentu dan melihat reaksinya dalam 24 jam.

Alternatif yang Lebih Lembut

Kini, semakin banyak produk pembersih yang diformulasikan tanpa SLS dan mengandalkan bahan-bahan yang lebih lembut di kulit. Bahkan, beberapa bahan alami seperti lerak juga mulai digunakan sebagai alternatif dalam produk sabun dan sampo tradisional.

Dengan memahami fungsi dan risikonya, konsumen diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih produk pembersih yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kulit masing-masing.***

Editor : Syafira

Sumber : alodokter.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel