TIMETODAY.ID, JAKARTA — Produk kosmetik telah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang untuk merawat dan mempercantik diri. Mulai dari perawatan wajah, rambut, hingga bibir, kosmetik digunakan untuk membersihkan, memberi aroma, sekaligus meningkatkan penampilan.
Namun di balik manfaatnya, memahami bahan dasar kosmetik menjadi hal penting agar pengguna tidak salah memilih produk.
Kosmetik sendiri merupakan bahan yang digunakan pada bagian luar tubuh seperti kulit, rambut, bibir, bahkan gigi.
Tujuannya tidak hanya untuk mempercantik, tetapi juga menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Karena itu, mengenali kandungan bahan dalam kosmetik dapat membantu meminimalkan risiko gangguan kesehatan kulit akibat penggunaan produk yang tidak sesuai.
Di pasaran, produsen kosmetik sering menawarkan berbagai klaim untuk menarik perhatian konsumen. Ada yang menyebut produknya berbahan alami, organik, hingga mampu memutihkan kulit secara instan.
Meski terdengar menarik, konsumen sebaiknya tidak langsung percaya pada klaim tersebut tanpa memeriksa kandungan bahan dan keamanan produk.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tidak sedikit produk kosmetik yang beredar tanpa izin resmi, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan.
Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk lebih aktif mencari informasi mengenai komposisi bahan sebelum memutuskan membeli produk.
Bahan Kimia dalam Kosmetik yang Perlu Diperhatikan
Perlu dipahami bahwa kosmetik pada dasarnya tidak terlepas dari penggunaan bahan kimia. Namun, bahan-bahan tersebut umumnya aman selama digunakan dalam jumlah dan batas tertentu sesuai standar yang ditetapkan.
Berdasarkan aturan BPOM melalui Peraturan Kepala BPOM Nomor 23 Tahun 2019 tentang persyaratan teknis bahan kosmetika, beberapa bahan kimia masih diperbolehkan digunakan tetapi dengan kadar yang sangat terbatas.
Beberapa di antaranya adalah benzalkonium klorida, triclosan, triclocarban, paraben, DMDM hydantoin, bronopol, methylisothiazolinone, hingga oxybenzone.
Selain itu, formaldehyde atau formalin hanya boleh digunakan dalam kadar sangat kecil, yaitu maksimal 0,1 persen pada produk pembersih mulut.
Penggunaan formalin juga dilarang dalam kosmetik berbentuk semprotan. Produk yang mengandung formalin lebih dari 0,05 persen bahkan wajib mencantumkan label peringatan “mengandung formaldehyde”.
Bahan Kosmetik yang Dilarang
Selain bahan yang dibatasi, ada pula beberapa bahan kimia yang dilarang digunakan dalam kosmetik karena berpotensi membahayakan kesehatan.
Bahan-bahan tersebut antara lain petroleum dengan proses tertentu yang berisiko karsinogenik, polyethylene, butylated hydroxyanisole (BHA), phthalates, hydroquinone, benzene, bithionol, klorin, kloroform, hidrokarbon, hingga naphthalene.
Penggunaan bahan-bahan tersebut dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi kulit hingga risiko penyakit serius jika digunakan secara terus-menerus.
Bahan Tambahan yang Perlu Diwaspadai
Selain bahan utama, konsumen juga perlu memperhatikan bahan tambahan dalam kosmetik yang berpotensi menimbulkan efek samping.
Salah satunya adalah wewangian atau fragrance. Meski bukan kandungan utama, bahan ini sering digunakan untuk memberikan aroma tertentu pada produk kosmetik.
Namun pada sebagian orang, fragrance dapat memicu iritasi maupun reaksi alergi, terutama bagi pemilik kulit sensitif.
Bahan lain yang perlu diperhatikan adalah pengawet. Pengawet memang berfungsi untuk membunuh bakteri dan memperpanjang masa pakai produk.
Namun pada beberapa kasus, bahan ini juga dapat menyebabkan iritasi kulit atau mengganggu keseimbangan bakteri alami pada kulit.
Selain komposisi, kemasan kosmetik juga berperan penting dalam menjaga keamanan produk. Kemasan yang kedap udara dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri.
Sebaliknya, kemasan terbuka seperti toples berisiko lebih mudah terkontaminasi mikroorganisme jika tidak digunakan dengan benar.
Tips Aman Menggunakan Kosmetik
Agar penggunaan kosmetik tetap aman, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah selalu mencuci tangan sebelum menggunakan produk, terutama jika harus mengambil produk langsung dari wadahnya.
Selain itu, hindari mencampur kosmetik dengan air atau cairan lain yang bisa memicu pertumbuhan bakteri. Kosmetik juga sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dan kering agar kualitasnya tetap terjaga.
Konsumen juga dianjurkan untuk selalu memeriksa izin edar BPOM, tanggal kedaluwarsa, serta komposisi bahan sebelum membeli produk.
Memilih kosmetik yang sesuai dengan jenis dan kondisi kulit juga menjadi langkah penting untuk menghindari masalah kulit.
Dengan memahami bahan dasar kosmetik serta cara penggunaannya yang tepat, risiko efek samping dapat diminimalkan sehingga perawatan kulit tetap aman dan efektif.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































