TIMETODAY.ID, JAKARTA — Belakangan ini, gelatin kerap disebut-sebut sebagai salah satu bahan yang diyakini mampu membantu menjaga kesehatan usus. Konsumsi gelatin secara rutin bahkan diklaim dapat memperkuat lapisan pelindung saluran pencernaan dan mendukung sistem cerna bekerja lebih optimal.
Namun, seberapa kuat bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut?
Apa Itu Gelatin?
Gelatin merupakan protein yang berasal dari kolagen, yakni protein utama yang banyak ditemukan pada tubuh manusia maupun hewan.
Kolagen sendiri tersebar di berbagai jaringan tubuh seperti kulit, tulang, tendon, dan ligamen. Protein ini berfungsi menjaga struktur dan kekuatan jaringan, termasuk membantu elastisitas kulit serta fleksibilitas sendi.
Karena kolagen alami umumnya terdapat pada bagian hewan yang sulit dikonsumsi langsung, proses pemanasan digunakan untuk mengubahnya menjadi gelatin yang lebih mudah diolah dan dimakan.
Gelatin mengandung sejumlah asam amino penting seperti glisin dan prolin yang disebut memiliki potensi manfaat kesehatan, termasuk bagi sistem pencernaan.
Dalam industri makanan, gelatin banyak digunakan sebagai bahan pembuatan permen lunak, jeli, marshmallow, hingga es krim.
Disebut Bisa Mendukung Kesehatan Usus
Ahli nutrisi Morgan Pearson mengatakan sejumlah penelitian memang menemukan kaitan antara gelatin dan kesehatan usus.
Asam amino dalam gelatin dinilai berpotensi membantu menjaga kekuatan lapisan pelindung usus. Lapisan ini memiliki peran penting sebagai penghalang alami untuk mencegah zat berbahaya masuk ke aliran darah sekaligus menjaga keseimbangan mikroorganisme di saluran cerna.
Beberapa studi juga menunjukkan glisin dapat membantu mengontrol peradangan serta mendukung integritas protein yang menjaga struktur dinding usus.
Selain gelatin biasa, terdapat pula formulasi khusus bernama gelatin tanat yang digunakan di dunia medis. Zat ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada usus dan kerap digunakan untuk membantu meredakan gejala seperti diare maupun rasa tidak nyaman di perut.
Meski begitu, gelatin tanat berbeda dengan gelatin yang umum ditemukan pada makanan atau suplemen.
Bukti Ilmiah pada Manusia Masih Terbatas
Di balik berbagai klaim tersebut, Pearson mengingatkan bahwa bukti ilmiah mengenai manfaat gelatin terhadap kesehatan usus manusia masih terbatas.
“Sebagian besar penelitian tentang senyawa terkait gelatin telah dilakukan pada hewan atau di laboratorium, dan hasilnya tidak selalu dapat diterapkan langsung pada kehidupan nyata manusia,” tulis Pearson di laman Verywell Health.
Ia menambahkan bahwa gelatin saat ini lebih dipandang sebagai tambahan pendukung, bukan solusi utama yang sudah terbukti secara medis untuk memperbaiki kesehatan usus.
“Banyak ahli nutrisi memandangnya sebagai tambahan pendukung terbaik, bukan strategi berbasis bukti untuk meningkatkan kesehatan usus,” kata Pearson lagi.
Kesehatan Usus Tak Bergantung pada Satu Makanan
Menurut Pearson, menjaga kesehatan saluran cerna tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis makanan tertentu.
Ia menyarankan pola makan kaya serat untuk membantu memberi nutrisi bagi bakteri baik di usus. Bakteri tersebut nantinya menghasilkan senyawa yang membantu menjaga kekuatan lapisan usus.
Selain itu, konsumsi makanan nabati yang beragam juga dinilai penting untuk mendukung keseimbangan mikrobioma usus. Asupan protein, kualitas tidur, dan pengelolaan stres pun turut memengaruhi kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.
“Faktor gaya hidup sama pentingnya. Kurang tidur dan stres kronis dapat memengaruhi fungsi usus dan dapat melemahkan penghalang usus seiring waktu,” kata Pearson.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































