Demi Keselamatan, Pemkot Bogor Siapkan Penutupan Tiga Perlintasan KA

perlintasan KA
BAHAYA : Sejumlah anak-anak tampak antusias menyaksikan kereta KAI Commuter yang melintas di perlintasan sebidang Jalan RE Martadinata, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (17/5/2026). Perlintasan tersebut termasuk salah satu titik yang akan ditutup Pemerintah Kota Bogor menyusul seringnya terjadi kecelakaan di lokasi itu. FOTO: TIMETODAY.ID/B. SUPRIYADI

TIMETODAY.ID, BOGOR –  Demi menekan angka kecelakaan, Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat berencana menutup tiga titik perlintasan KA (kereta api) yang selama ini dinilai rawan. Ketiga titik tersebut berada di Jalan MA Salmun, Jalan Martadinata, dan Jalan Soleh Iskandar.

Desakan penutupan menguat setelah kecelakaan fatal terjadi di perlintasan Martadinata pada awal April 2026. Seorang warga tewas tertabrak kereta api di lokasi yang sebenarnya telah dipasang pembatas beton. Identitas korban hingga kini belum diketahui.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Juniarti Estiningsih mengatakan, ketiga lokasi itu dipilih berdasarkan hasil pemetaan risiko keselamatan yang dilakukan dinasnya. Perlintasan di Martadinata dan Soleh Iskandar sejatinya bukan jalur resmi bagi kendaraan maupun pejalan kaki, namun warga masih kerap melintasinya.

Advertisement
Baca Juga :  Semakin Mudah, Masyarakat Kini Bisa Bayar Pajak di Kantor Kecamatan

“Walaupun bukan jalur kendaraan, masyarakat masih sering lalu lalang di sana. Karena itu cukup sering terjadi kecelakaan saat warga menyeberang rel,” kata Esti sapaan akrabnya, Minggu (17/5/2026).

Ia memastikan penutupan akan segera direalisasikan begitu kajian teknis rampung. “Perencanaan dan tahapannya sedang kami siapkan dan kaji. Secepatnya akan direalisasikan demi keamanan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Satgas Pelajar Amankan Siswa Pembawa Celurit di Kota Bogor

Rencana itu disambut pasrah oleh sebagian warga. Diniarti (25), warga Pondok Rumput yang kerap melintas di perlintasan Martadinata, mengaku jalur itu selama ini menjadi jalan pintas sehari-hari.

“Harus lewat mana, kalau muter dulu kan jauh. Saya cuma mau beli bubur saja,” katanya.

Meski begitu, ia tidak menolak rencana pemerintah.

“Kalau memang jalur perlintasan ini ditutup, ya apa boleh buat, harus muter jauh,” ujar Diniarti.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel