
TIMETODAY.ID, BOGOR – Jutaan orang melintas di Jalan Margonda Raya setiap harinya. Hampir tak ada yang tahu bahwa sosok di balik nama jalan itu pernah hidup, belajar, dan menikah di Bogor.
Sebuah rumah tua bernomor 1 berdiri di Gang Slot, Jalan Polisi, Kelurahan Paledang, Bogor Tengah, Jawa Barat. Catnya sudah memudar. Dindingnya menyimpan sebuah cerita yang nyaris terlupakan.
Rumah itu, menurut penelusuran sejarah, pernah menjadi tempat tinggal Margonda.
Bukan Margonda nama jalan. Bukan Margonda nama kawasan bisnis yang kini penuh ruko dan kemacetan. Melainkan seorang pemuda kelahiran Baros, Cimahi, yang pernah menghirup udara Bogor, menuntut ilmu di kota ini, menikah, membangun hidupnya, sebelum akhirnya memilih angkat senjata dan tak pernah kembali.
Ironinya, nyaris tak ada yang ingat.
Sebelum Jalan Itu Ada Namanya
Margonda muda adalah seorang pelajar yang merantau ke Bogor. Di kota berhawa sejuk ini, ia menempuh pendidikan di sekolah kimia, pilihan yang tak biasa untuk zamannya, dan menggambarkan kecerdasan yang melampaui rata-rata. Bogor menjadi kota tempat ia tumbuh, tempat ia jatuh cinta, dan tempat ia menikah.
“Beliau bukan hanya sosok yang berani,” kata Ketua Depok Heritage Community, Ratu Farah Diba.
“Punya bekal pendidikan tinggi, tapi memilih jalan perjuangan. Itu bukan pilihan yang mudah,” tambahnya.
Dan pilihan itu membawanya jauh dari Gang Slot, menuju medan laga yang tak akan pernah ia tinggalkan dengan selamat.
16 November 1946, Kalibata
Pagi itu, sebuah serangan kilat dilancarkan para pejuang Indonesia melawan pasukan Belanda yang hendak kembali mencengkeramkan kekuasaannya. Margonda ada di barisan terdepan. Di Kalibata, Depok, hari itu ia gugur bersama kawan-kawannya.
Jasad para pejuang kemudian diserahkan pihak Belanda dan dibawa kembali ke Bogor. Mereka dimakamkan secara massal, di tanah yang kini kita kenal sebagai Alun-Alun Kota Bogor. Para pahlawan beristirahat di tempat orang-orang kini bersantai dan berfoto, tanpa pernah tahu siapa yang tidur di bawah tanah yang sama.
Kelak, jasad mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Dreded. Nama Margonda kemudian diabadikan, bukan di Bogor, kota tempat ia hidup dan beranjak dewasa, melainkan di Depok, kota tempat ia gugur.
Bogor seperti kehilangan haknya atas cerita ini.
Utang yang Belum Terbayar
Sabtu, 26 April 2026, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim berdiri di depan rumah tua di Gang Slot itu. Ia datang bersama Kepala Dinas Sosial, Camat Bogor Tengah, dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor.
Satu per satu cerita tentang Margonda mengalir. Tentang kecerdasannya. Tentang keberaniannya. Tentang betapa dalam jejak hidupnya tertanam di kota ini, dan betapa lama jejak itu dibiarkan tak terawat.
“Saya mendengar banyak sekali cerita kepahlawanan Margonda,” kata Dedie seusai kunjungan.
“Insyaallah ke depan Pemerintah Kota Bogor akan memberikan bentuk penghormatan, salah satunya melalui prasasti sebagai wujud apresiasi atas perjuangannya melawan dan mengusir penjajah,” tegas Dedie.
Sebuah prasasti, bahwa Bogor punya bagian dalam kisah ini sebelum Margonda menjadi nama jalan yang dilewati jutaan orang setiap hari tanpa pikir panjang, ia pernah menjadi bagian dari kota ini.
Rumah di Gang Slot itu masih berdiri. Sunyi, seperti biasa. Jejak itu ada, hanya selama ini tak ada yang cukup peduli untuk mencarinya.
Editor : B. Supriyadi
Sumber : Diskominfo Kota Bogor
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































