Pemerintah Borong Minyak Rusia 150 Juta Barel, Skema Pembelian Masih Dikaji

minyak
tambang minyak. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia mulai mengamankan pasokan energi di tengah dinamika global dengan menyepakati pembelian minyak mentah dalam jumlah besar dari Rusia. Kesepakatan ini diungkap Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, yang menyebut total impor mencapai 150 juta barel.

Jumlah tersebut bukan angka kecil—bahkan setara dengan sekitar setengah kebutuhan minyak nasional dalam satu tahun.

“Impor minyak dari Rusia sudah disepakati total impor dari Rusia 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (24/4/2026).

Advertisement

Dalam skemanya, impor tidak dilakukan sekaligus, melainkan bertahap hingga akhir tahun. Pemerintah saat ini masih menggodok mekanisme pembelian, apakah akan dilakukan melalui Pertamina atau lewat skema Badan Layanan Umum (BLU) yang dinilai lebih fleksibel dari sisi pembiayaan.

Baca Juga :  TPS 27 Cileungsi Jadi Lokasi Pencoblosan Kang Mus pada Pilbup Bogor

Yuliot menilai penggunaan BUMN untuk transaksi dalam skala besar memiliki risiko tersendiri. Karena itu, opsi pembentukan BLU menjadi alternatif yang tengah dipertimbangkan, terutama untuk mempermudah penggunaan anggaran negara.

Selain skema pembelian, jalur distribusi juga menjadi perhatian. Pemerintah harus mempertimbangkan faktor keamanan dan efisiensi, mengingat kondisi geopolitik global—terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran—yang berpotensi memengaruhi rute pengiriman minyak.

Baca Juga :  Tembus 212 Ribu Penonton, Sekawan Limo 2 Kuasai Box Office Hari Pertama

Di sisi lain, kebutuhan energi nasional memang masih jauh dari kata cukup. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari.

Kondisi tersebut membuat Indonesia harus terus mencari pasokan dari luar negeri dengan harga yang kompetitif.

“Jadi semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan,” kata Bahlil.

Langkah ini sekaligus mencerminkan strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global—memastikan pasokan tetap aman, tanpa mengabaikan aspek efisiensi dan risiko geopolitik.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel