
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita mulai melanda sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bogor dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi itu memicu lonjakan harga di tingkat pengecer, melampaui harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor, Melly Kamelia mengungkapkan, kelangkaan ini dipicu oleh tersendatnya distribusi pada jalur pasok di wilayah Bogor Raya.
“Kelangkaan ini diduga dipengaruhi oleh keterlambatan pengiriman dari produsen, panjangnya rantai distribusi dari produsen hingga pengecer, serta kenaikan harga crude palm oil di pasar global,” kata Melly kepada wartawan, Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan pemantauan Disdagin di sejumlah pasar, seperti Cibinong, Cileungsi, Parung, dan Leuwiliang, stok Minyakita kerap habis dalam waktu singkat. Minimnya pasokan mendorong sebagian pedagang beralih menjual minyak goreng nonsubsidi dengan harga Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per liter, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) Minyakita sebesar Rp 15.700 per liter.
Guna mengatasi situasi tersebut, Disdagin Kabupaten Bogor menyiapkan sejumlah langkah penanganan. Melly menyebut pihaknya akan menggelar inspeksi mendadak ke pasar-pasar, berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk penambahan pasokan, serta mengadakan operasi pasar murah di titik-titik rawan, termasuk kawasan Pasar Cibinong.
“Kami akan kembali melakukan sidak pasar dan menyiapkan operasi pasar murah di sejumlah titik rawan guna menekan harga dan menjaga ketersediaan minyak goreng bagi masyarakat,” ujar Melly.




































