Sering Disalahkan, Ternyata Ini Penyebab Roti Picu Kenaikan Berat Badan

roti
ilustrasi roti. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Anggapan bahwa roti menjadi pemicu kenaikan berat badan ternyata tak sesederhana soal jumlah kalori. Penelitian terbaru dari Osaka Metropolitan University menemukan bahwa cara tubuh memproses karbohidrat juga memainkan peran penting dalam penambahan berat badan.

Dalam studi tersebut, konsumsi roti berbahan gandum justru dikaitkan dengan peningkatan berat badan dan lemak tubuh, meskipun asupan kalori tetap relatif sama. Temuan ini menunjukkan ada mekanisme metabolisme lain yang terlibat, bukan sekadar kelebihan energi.

Penelitian yang dipimpin ahli nutrisi Shigenobu Matsumura ini dilakukan pada tikus laboratorium untuk mengamati dampak pola makan tinggi karbohidrat. Hasilnya, konsumsi makanan seperti roti dan olahan tepung justru menurunkan pengeluaran energi tubuh.

Advertisement

“Temuan ini menunjukkan kenaikan berat badan bukan hanya karena gandum, tetapi juga karena preferensi terhadap karbohidrat tinggi dan perubahan metabolisme yang terjadi,” ujar Matsumura.

Baca Juga :  Kalahkan 116 Peserta, Ilham Akbar Rebut Juara Desain Logo HJB ke-544

Tubuh Lebih Banyak Menyimpan Lemak

Dalam eksperimen, tikus diberi pilihan antara pakan sehat berbasis sereal dan makanan tinggi karbohidrat seperti roti gandum, tepung gandum panggang, serta tepung beras. Mayoritas tikus cenderung memilih makanan tinggi karbohidrat tersebut.

Pilihan ini berdampak pada peningkatan berat badan, terutama pada tikus jantan. Menariknya, kenaikan ini bukan disebabkan oleh makan berlebihan atau kurang aktivitas, melainkan karena tubuh membakar lebih sedikit kalori dan lebih banyak menyimpan energi dalam bentuk lemak.

Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas gen yang mengubah karbohidrat menjadi lemak, sementara pembakaran energi justru menurun.

Efek Bisa Berbalik

Kabar baiknya, efek ini tidak bersifat permanen. Ketika pola makan tikus dikembalikan ke diet seimbang, berat badan berhenti naik dan kondisi metabolisme kembali normal.

Baca Juga :  GTA 6 Mundur ke Mei 2026, Rockstar Janji Kualitas Lebih Sempurna

Hal ini memperkuat bahwa jenis makanan yang dikonsumsi berpengaruh besar terhadap cara tubuh mengelola energi, bukan hanya jumlah kalorinya.

Masih Perlu Studi pada Manusia

Meski hasilnya menarik, peneliti menegaskan bahwa studi ini masih terbatas pada hewan. Diperlukan penelitian lanjutan pada manusia untuk memastikan apakah efek yang sama juga terjadi.

Ke depan, para ilmuwan juga berencana meneliti lebih jauh pengaruh berbagai jenis karbohidrat lain—seperti biji-bijian utuh dan makanan tinggi serat—serta kombinasinya dengan protein dan lemak terhadap metabolisme tubuh.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa pola makan seimbang tetap menjadi kunci, bukan sekadar menghitung kalori, tetapi juga memperhatikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel