TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pernah merasa perempuan di sekitar Anda—entah pasangan, ibu, atau rekan kerja—lebih sering mengeluhkan kurang tidur? Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan, melainkan juga tercermin dalam sejumlah penelitian ilmiah.
Anggapan bahwa perempuan membutuhkan waktu tidur lebih lama memang kerap muncul. Namun, para peneliti menilai persoalan ini tidak sesederhana perbedaan biologis semata. Ada kombinasi faktor tubuh dan dinamika kehidupan sehari-hari yang saling berkelindan.
Sebuah ulasan ilmiah berjudul The Yin and Yang of Sleep-Wake Regulation: Gender Gap in Need for Sleep menunjukkan adanya perbedaan kebutuhan tidur antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai studi berbasis kuesioner, perempuan cenderung melaporkan kebutuhan tidur yang lebih tinggi.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa selisih tersebut tidak sepenuhnya berasal dari faktor biologis. Rutinitas harian justru memiliki peran besar dalam membentuk pola tidur.
Faktor keseharian yang memengaruhi kualitas tidur
Beberapa aspek yang berkontribusi terhadap kondisi ini antara lain:
- Beban pekerjaan
- Tanggung jawab rumah tangga
- Peran dalam pengasuhan
Kondisi tersebut membuat waktu tidur perempuan kerap terfragmentasi atau tidak optimal. Akibatnya, meski durasi tidur terlihat cukup, tubuh belum tentu benar-benar pulih, sehingga rasa lelah tetap muncul.
Peran perubahan hormon
Dari sisi medis, kualitas tidur perempuan juga dipengaruhi oleh fluktuasi hormon. Ulasan Sleep in Women: A Narrative Review of Hormonal Influences, Sex Differences and Health Implications menjelaskan bahwa perubahan hormon dapat mengganggu ritme tidur.
Beberapa fase yang berpengaruh meliputi:
- Siklus menstruasi (estrogen dan progesteron)
- Kehamilan
- Menopause
Perubahan hormon ini dapat membuat tidur lebih mudah terganggu, lebih dangkal, atau kurang restoratif.
Bukan sekadar soal durasi
Dari berbagai temuan tersebut, terlihat bahwa isu tidur tidak hanya soal berapa lama seseorang beristirahat, tetapi juga kualitasnya. Tidur yang sering terputus atau tidak nyenyak bisa membuat tubuh tetap lelah meski jam tidur terpenuhi.
Dalam banyak kasus, perempuan menghadapi kombinasi antara kualitas tidur yang lebih rentan terganggu dan aktivitas harian yang padat.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang membutuhkan tidur lebih banyak, melainkan siapa yang lebih sulit mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas.
Memahami hal ini membantu melihat kelelahan dari sudut pandang yang lebih utuh—bahwa rasa lelah bukan hanya akibat kurang tidur, tetapi juga hasil dari ritme hidup, perubahan biologis, dan beban peran yang dijalani setiap hari.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































