Kasus Gagal Ginjal Melonjak, Malaysia Hadapi Beban Kesehatan Kian Berat

Gagal Ginjal
ilsutrasi Gagal Ginjal. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Penyakit Gagal Ginjal Kronis kian menjadi ancaman serius di Malaysia. Beban biaya pengobatan yang harus ditanggung negara melonjak drastis, mencapai 3,3 miliar ringgit per tahun—naik tajam dibandingkan 572 juta ringgit pada 2010.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, menyebut kondisi ini sebagai salah satu tantangan kesehatan paling mendesak saat ini. Ia mengungkapkan, setiap hari sekitar 28 warga Malaysia didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus segera menjalani terapi dialisis.

“Setiap hari, puluhan warga mulai menjalani dialisis. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang kita hadapi,” ujar Dzulkefly.

Advertisement

Data menunjukkan lebih dari lima juta penduduk Malaysia hidup dengan gangguan ginjal, namun hanya sekitar lima persen yang menyadari kondisi tersebut. Dalam satu dekade terakhir, prevalensi penyakit ini juga meningkat signifikan, dari 9 persen pada 2011 menjadi 15,5 persen pada tahun lalu.

Baca Juga :  5 Cara Ampuh Menghilangkan Kantuk Tanpa Kopi

Dzulkefly memperingatkan, tanpa langkah penanganan yang tegas, jumlah pasien yang membutuhkan dialisis bisa melonjak hingga lebih dari 106.000 orang pada 2040.

“Jika tidak ada intervensi yang kuat, angka pasien dialisis akan terus meningkat dan memberi tekanan besar, baik pada sistem kesehatan maupun ekonomi negara,” tegasnya.

Sebagian besar kasus gagal ginjal di Malaysia berkaitan erat dengan komplikasi diabetes. Karena itu, pemerintah mulai memperkuat kebijakan pencegahan, salah satunya dengan menaikkan pajak minuman berpemanis menjadi 90 sen per liter sejak awal tahun lalu.

Kebijakan tersebut menghasilkan pendapatan sekitar 54,9 juta ringgit, di mana sebagian dialokasikan kembali untuk sektor kesehatan. Dana itu digunakan, antara lain, untuk mendukung pengobatan diabetes guna menekan risiko komplikasi ke ginjal.

Baca Juga :  Cuaca Tak Menentu, Ini Cara Herbal Dokter Inggrid Tingkatkan Imun Tubuh

Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan metode “dialisis peritoneal pertama”, yaitu perawatan yang bisa dilakukan pasien di rumah. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi beban fasilitas kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pada tahun lalu, sekitar 40 juta ringgit dialokasikan untuk program ini. Hasilnya, tingkat adopsi metode tersebut meningkat menjadi 42 persen di fasilitas kesehatan publik, memberikan manfaat bagi lebih dari 3.000 pasien.

Lonjakan kasus dan biaya ini menjadi pengingat bahwa penyakit kronis tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional jika tidak ditangani sejak dini.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel