Ketika Kantong Plastik Menjadi Barang Mewah

kantong plastik
Muslim (49), pedagang plastik di Pasar Bojonggede, Kabupaten Bogor, mencatat transaksi di lapaknya yang sesak oleh berbagai jenis plastik, Senin (6/4/2026). Kenaikan harga plastik hingga 100 persen dalam beberapa bulan terakhir membuat omzetnya tidak menentu dan pembelinya mulai berpikir dua kali sebelum berbelanja. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Pagi itu, Senin (6/4/2026) Muslim berdiri di balik deretan bungkusan kantong plastik yang tergantung rapi di lapaknya. Jemarinya sesekali merapikan tumpukan kantong plastik bening, hitam, dan putih susu yang menjadi andalannya berjualan di Pasar Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Namun ada yang berbeda. Di balik kerapian lapaknya, ada ganjalan yang belakangan sulit ia singkirkan, yaitu harga.

“Kenaikannya ada yang sampai 100 persen, sebagian lagi sekitar 50 persen. Rata-rata di angka 50 sampai 100 persen kenaikan rata-rata,” ujar pria 49 itu saat ditemui di lapaknya.

Advertisement

Pria yang sudah belasan tahun menggeluti plastik ini mengisahkan bagaimana gejolak itu datang perlahan, lalu tiba-tiba terasa berat. Menjelang bulan Ramadan, harga mulai merangkak. Setelah Lebaran, lonjakan itu semakin tak terbendung.

Hampir tak ada yang luput. Kantong plastik, gelas plastik, dari yang berwarna hingga yang bening, semuanya naik.

“Yang warna, bening, putih susu, hitam, sekitar 30 persen naik. Pokoknya yang berkaitan dengan plastik naik semua, 50–70 persen lah,” ungkapnya.

Plastik yang dulu ia jual seharga Rp 5.000 per bungkus, kini harus dilepas seharga Rp 9.000. Hampir dua kali lipat.

Baca Juga :  Tanpa Gol, Van Dijk Ukir Sejarah Liga Champions

Tak hanya Muslim yang merasakan dampaknya. Para pembelinya pun ikut terdampak, meski dengan cara yang berbeda, mereka terperangah, lalu pergi meningalkan lapak.

“Pembeli kaget, kadang dia jadi tidak jadi beli. Tapi setelah cek ke tempat lain, harganya sama karena emang rata-rata segitu,” keluh Muslim.

Ada semacam kepasrahan dalam nada bicaranya. Bukan kepasrahan yang menyerah, melainkan kepasrahan seorang pedagang yang sudah hafal betul irama pasar, bahwa ketika satu lapak naik, lapak lain pun ikut naik, karena sumber barangnya sama.

Dan sumber masalahnya, menurut Muslim, ada di sana, di hulu, di gudang-gudang distribusi, bahkan lebih jauh lagi, di kawasan yang nun jauh di sana.

“Kalau dari distributor, bahan bakunya enggak masuk, akhirnya produksinya susah, ya bahan bakunya enggak ada gitu,” ucapnya.

Muslim menyebut gangguan pasokan bahan baku plastik itu diduga berkaitan dengan gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah, sebuah konflik yang mungkin terasa abstrak di layar televisi, tetapi berdampak sangat konkret di lapak-lapak pasar seperti miliknya.

Baca Juga :  Geger Sukaraja! Jasad Pria 48 Tahun Ditemukan Membusuk di Kamar Kontrakan

Di tengah ketidakpastian itu, Muslim memutar otak. Ia tak bisa mengubah harga pasar dunia. Ia pun tak kuasa menghentikan kenaikan dari distributor. Yang bisa ia lakukan adalah bertahan, dan mulai berhemat dari hal paling kecil sekalipun.

“Kalau belanja sedikit, sekarang tidak selalu kita kasih kantong plastik,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, kantong plastik mungkin sepele. Tapi bagi pedagang seperti Muslim, setiap lembar kantong yang tak terpakai adalah penghematan kecil yang, jika dikumpulkan, bisa menjaga lapaknya tetap bertahan.

Omzetnya kini tidak lagi bisa diprediksi.

“Ya kayak gitu aja, hari ini berkurang besok bisa bertambah lagi, enggak tentu juga jadinya kita jualan omzetnya,” ucapnya.

Sebelum percakapan berakhir, Muslim menyampaikan satu hal yang rupanya paling ia rindukan, kestabilan harga.

Bukan kekayaan. Bukan harga yang turun drastis. Cukup stabil.

“Harapannya harga bisa turun lagi, minimal tidak setinggi sekarang supaya kita juga jualan enggak was-was begitu mau jualan ini itu,” tandasnya.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel