Konflik Iran Memanas, Pejabat Intelijen AS Mundur karena Tak Sepakat

pejabat intelijen
pejabat intelijen Joe Kent. Foto: AP /Rod Lamkey, Jr., File

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Seorang pejabat intelijen senior Amerika Serikat, Joe Kent, memutuskan mundur dari jabatannya di tengah memanasnya konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Pengunduran diri tersebut disampaikan Kent pada Selasa (17/3/2026). Ia sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional.

Dalam pernyataannya, Kent mengungkap alasan utama mundur karena tidak sejalan dengan kebijakan perang yang sedang dijalankan negaranya terhadap Iran.

Advertisement

“Setelah banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, efektif hari ini,” tulisnya dalam unggahan di media sosial.

Baca Juga :  Serangan Israel ke Gaza Tewaskan 37 Orang, Gencatan Senjata Kembali Dilanggar

Ia menegaskan tidak dapat mendukung operasi militer tersebut karena menilai Iran tidak memberikan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.

“Saya tidak bisa, dengan hati nurani yang baik, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap negara kita,” ujarnya.

Kent juga menyinggung bahwa konflik tersebut didorong oleh tekanan dari pihak luar, termasuk Israel dan kelompok lobi di AS.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Kantor Direktur Intelijen Nasional terkait pengunduran diri tersebut.

Baca Juga :  Sempat Kabur, Sopir Angkot Tabrak Pejalan Kaki di Bogor Ditahan Polisi

Sementara itu, Donald Trump tetap menyatakan Iran sebagai ancaman langsung bagi negaranya. Ia menyebut operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari sebagai langkah pencegahan terhadap potensi serangan Iran di kawasan Timur Tengah.

Namun, pernyataan tersebut berseberangan dengan penjelasan Departemen Pertahanan AS kepada Kongres yang menyebut Iran tidak memiliki rencana menyerang, kecuali jika terlebih dahulu diserang.

Seiring perkembangan konflik, alasan intervensi AS juga disebut berubah-ubah, mulai dari melindungi demonstran, mencegah pengembangan senjata nuklir, hingga upaya menggulingkan rezim yang dianggap mendukung aksi terorisme.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel