Perang AS dan Iran Berlanjut, Pasokan Minyak Global Diperkirakan Menyusut

Iran
Ilustrasi minyak bumi. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Lonjakan harga dipicu gangguan besar pada distribusi energi global setelah jalur strategis Selat Hormuz ditutup. Jalur laut tersebut selama ini menjadi salah satu arteri utama perdagangan minyak dunia, mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Sepanjang bulan ini, harga minyak mentah jenis Brent Crude dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 40 persen. Kenaikan ini membawa harga minyak ke level tertinggi sejak 2022.

Advertisement

Lonjakan tersebut terjadi setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran memicu Teheran menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

AS Siapkan Koalisi Pengamanan Jalur Minyak

Presiden Donald Trump dilaporkan mendorong negara-negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Washington bahkan berencana mengumumkan koalisi internasional untuk mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Produksi Rengginang Meningkat Jelang Lebaran 

Di saat yang sama, Trump juga mengancam akan memperluas serangan terhadap fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor energi utama negara tersebut.

Ancaman itu memicu respons balasan dari Iran. Tidak lama setelah serangan di Kharg, drone Iran dilaporkan menyerang terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab.

Terminal tersebut memiliki peran penting karena menjadi jalur ekspor sekitar satu juta barel minyak mentah Murban per hari, setara dengan sekitar satu persen dari kebutuhan minyak global.

Infrastruktur Energi Teluk Jadi Target Rentan

Ketegangan yang meningkat membuat sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk masuk dalam daftar titik rawan. Beberapa di antaranya termasuk terminal ekspor Ras Tanura serta fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi.

Baca Juga :  Di Tengah Gencatan Senjata, Israel Tetap Serang Gaza dan Renggut 22 Nyawa

Analis energi dari JP Morgan, Natasha Kaneva, menilai situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius.

“Ini menandai peningkatan konflik,” ujarnya.

Pasokan Minyak Dunia Terancam Turun

Gangguan distribusi diperkirakan membuat pasokan minyak global menyusut hingga delapan juta barel per hari pada Maret 2026. Sementara itu, negara-negara produsen di Timur Tengah dilaporkan memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari, menurut data International Energy Agency.

Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan konflik dengan Iran bisa berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Ia optimistis pasokan energi global akan kembali stabil dan harga minyak berangsur turun setelah konflik mereda.

Namun hingga kini, peluang gencatan senjata masih belum terlihat. Upaya diplomasi dari beberapa sekutu Timur Tengah dilaporkan belum mendapat respons dari Washington, sementara Iran juga menegaskan tidak akan membahas gencatan senjata sebelum serangan militer dihentikan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel