TIMETODAY.ID, BOGOR – Komunikasi kebijakan dinilai memegang peran krusial dalam menentukan keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tanpa strategi komunikasi yang kuat, pesan pemerintah berpotensi dipahami secara berbeda oleh masyarakat.
Pengamat komunikasi publik, Ivan Nurdin mengatakan, keberhasilan sebuah kebijakan tidak semata-mata ditentukan oleh desain program maupun ketersediaan anggaran, melainkan juga oleh seberapa efektif pesan kebijakan itu tersampaikan kepada publik.
“Sebuah kebijakan tidak hanya soal program yang dijalankan, tetapi juga soal bagaimana pesan dari kebijakan itu dipahami oleh masyarakat,” ujar Ivan, Senin (9/3/2025).
Menurut alumnus pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, program MBG merupakan contoh kebijakan yang sangat bergantung pada efektivitas komunikasi publik, mengingat program ini membawa pesan penting seputar kesehatan dan nutrisi yang perlu dipahami secara luas.
Ia mengingatkan, apabila pesan kebijakan tidak diterima secara seragam, berbagai interpretasi yang muncul di tengah masyarakat dapat memengaruhi cara publik memandang dan merespons kebijakan tersebut.
Dalam konteks MBG, Ivan mengidentifikasi adanya potensi kesenjangan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat soal konsep makanan bergizi. Pemerintah, kata dia, mendefinisikan makanan bergizi dari pendekatan nutrisi, sementara masyarakat cenderung memaknainya berdasarkan pengalaman sehari-hari, seperti rasa, rasa kenyang, atau kebiasaan makan.
“Memperkuat komunikasi publik menjadi penting untuk menjembatani perbedaan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat mengenai tujuan dari kebijakan tersebut,” kata Ivan





































