TIMETODAY.ID, WHASINGTON – Amerika Serikat (AS) merespons penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru setelah ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara AS dan Israel sembilan hari lalu.
Presiden AS, Donald Trump menegaskan Washington seharusnya memiliki suara dalam penentuan pemimpin Teheran.
Dalam wawancara dengan ABC News sebelum pengumuman resmi keluar, Trump memperingatkan bahwa tanpa persetujuan Barat, kepemimpinan baru Iran mungkin tidak akan bertahan lama di tengah tekanan internasional. Trump sebelumnya juga meremehkan Mojtaba sebagai figur yang kurang berpengaruh.
Di Teheran, Majelis Pakar Iran bergerak cepat merespons kekosongan kekuasaan. Lembaga ulama tertinggi itu menggelar sidang darurat dan menetapkan Mojtaba, 56 tahun, sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran melalui pemungutan suara, Minggu (8/3/2026). Majelis menegaskan proses suksesi berjalan tanpa hambatan meski negara berada di bawah tekanan militer dari luar.
Mojtaba dikenal sebagai ulama tingkat menengah dengan hubungan erat terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia telah lama dipandang kalangan elite Iran sebagai kandidat kuat penerus ayahnya, didukung penuh oleh elemen berpengaruh di tubuh IRGC serta lingkaran kepresidenan mendiang Ali Khamenei.
Penunjukan ini secara ideologis menjadi preseden sensitif. Sistem Republik Islam Iran sejak awal dirancang menolak suksesi turun-temurun yang identik dengan monarki, sistem yang justru diruntuhkan Revolusi 1979. Namun dukungan kuat IRGC memberi Mojtaba pijakan politik yang solid untuk mengonsolidasi kekuasaan.
Klaim Trump bahwa AS berhak ikut menentukan pemimpin Iran dinilai sejumlah analis sebagai eskalasi retorika berbahaya yang berpotensi memperkeruh kawasan Timur Tengah, yang telah berada di ambang konflik lebih luas sejak serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei pekan lalu.








































