TIMETODAY.ID, JAKARTA — Konflik di perbatasan Israel dan Lebanon kembali memanas. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel Defense Forces melancarkan serangkaian serangan udara ke posisi Hezbollah di Beirut serta wilayah selatan Lebanon. Tidak hanya dari udara, pasukan infanteri Israel juga dilaporkan mulai memasuki wilayah Lebanon.
Operasi militer ini disebut sebagai respons atas serangan milisi Syiah tersebut. Sebelumnya, Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah utara Israel pada Minggu (1/3) malam hingga Senin (2/3), sebagai tanggapan atas serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Namun bagi Israel, operasi ini tidak sekadar balasan militer. Di balik eskalasi tersebut, terdapat sejumlah tujuan strategis yang ingin dicapai, mulai dari melemahkan kekuatan Hizbullah, menstabilkan kawasan perbatasan utara, hingga menekan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Menghilangkan ancaman militer Hizbullah
Israel sejak lama memandang Hizbullah sebagai salah satu ancaman militer paling serius terhadap keamanan nasionalnya. Kelompok yang kini dipimpin Naim Qassem itu dikenal memiliki persenjataan roket dalam jumlah besar serta jaringan militer yang kuat di selatan Lebanon.
Menurut intelijen Israel, jangkauan roket Hizbullah mampu mencapai hampir seluruh wilayah Israel.
Kepala Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa operasi militer tidak akan dihentikan sebelum ancaman tersebut benar-benar dihilangkan.
Tujuannya adalah melemahkan, bahkan menghancurkan kemampuan militer kelompok yang memiliki kedekatan dengan Iran itu.
Analis dari German Institute for International and Security Affairs (SWP) di Berlin, Peter Lintl, menilai strategi tersebut mencerminkan perubahan pendekatan militer Israel setelah serangan besar 7 October Hamas attack yang memicu perang di Gaza.
“Secara umum, ini merupakan orientasi strategis baru Israel, yang berkembang setelah 7 Oktober,” katanya. Tujuannya kini bukan lagi sekadar menahan lawan, tetapi “menghadapinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi menjadi ancaman.”
Meski demikian, Lintl mengingatkan bahwa upaya menghapus Hizbullah sepenuhnya hampir mustahil dilakukan.
“Hizbullah sangat melekat di masyarakat dan menjadi bagian dari struktur sosial Lebanon.”
Menurutnya, kemungkinan besar Israel akan berupaya menciptakan zona penyangga di wilayah selatan Lebanon dengan menduduki posisi-posisi strategis milik Hizbullah.
Mengamankan wilayah utara Israel
Selain melemahkan Hizbullah, Israel juga berupaya menstabilkan situasi keamanan di wilayah utara negara tersebut.
Sejak perang di Gaza pada Oktober 2023 yang kemudian melibatkan Hizbullah, kawasan perbatasan utara Israel mengalami ketegangan berkepanjangan. Ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka karena ancaman roket.
Media The Times of Israel melaporkan bahwa pemerintah di Tel Aviv menargetkan agar warga yang mengungsi dapat kembali ke rumah mereka dengan aman.
Namun Lintl menilai pendekatan yang digunakan Israel masih sangat berfokus pada aspek militer.
Ia menilai solusi politik bagi Lebanon belum terlihat jelas dalam strategi tersebut.
“Anda tidak bisa membasmi ideologi politik dengan bom,” tegasnya.
Menurut dia, tekanan militer mungkin dapat memberikan waktu bagi Israel, tetapi tidak menyelesaikan persoalan politik yang mendasari konflik secara permanen.
Menekan pengaruh Iran di kawasan
Operasi militer Israel juga berkaitan dengan upaya lebih luas untuk melemahkan jaringan proksi Iran di Timur Tengah.
Selain Hizbullah di Lebanon, aliansi yang kerap disebut sebagai “poros perlawanan” mencakup kelompok pro-Iran di Irak dan Suriah, serta milisi Houthi movement di Yemen.
Dalam wawancara dengan The Jerusalem Post, Eyal Zamir menyebut Israel ingin menghilangkan ancaman dari “poros Syiah” yang dipimpin Iran.
Menurut analisis keamanan Israel, Tehran sering menjalankan operasi melalui jaringan sekutunya dan melancarkan konflik secara tidak langsung melalui kelompok-kelompok tersebut.
Lintl menilai langkah Israel dapat dipahami dari sudut pandang keamanan nasional.
“Setiap negara memiliki kepentingan sah untuk melindungi warganya,” katanya.
Namun ia juga menyoroti dampak besar operasi tersebut terhadap masyarakat Lebanon.
Upaya menciptakan zona penyangga, kata dia, dapat memaksa puluhan ribu warga di selatan Lebanon kembali mengungsi dari rumah mereka.
Menghindari perang multi-front
Strategi Israel juga diarahkan untuk mencegah skenario perang besar di berbagai front secara bersamaan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Israel sedang menghadapi perang multi-front melawan Iran dan jaringan sekutunya.
Selain berhadapan dengan Hizbullah di Lebanon, Israel juga terlibat konflik dengan Hamas di Gaza serta menghadapi berbagai kelompok milisi lain yang berafiliasi dengan Iran di kawasan.
Para analis keamanan memperkirakan bahwa dalam situasi krisis, kelompok-kelompok tersebut dapat melakukan serangan terkoordinasi terhadap Israel.
Serangan simultan menggunakan roket, drone, dan berbagai senjata lainnya berpotensi memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan Israel.
Hizbullah sendiri diperkirakan memiliki hingga 150.000 roket.
Karena itu, Israel berupaya melemahkan satu per satu aktor dalam jaringan Iran tersebut sebelum eskalasi konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































