Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Meledak

Selat Hormuz
Sebuah kapal kargo melintas di perairan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, setelah Iran menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut ditutup dan memicu lonjakan harga minyak dunia. Foto : Dok. EPA/Stringer.

TIMETODAY.ID, IRAN – Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan mengguncang pasar energi global. Jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi distribusi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia itu dilaporkan nyaris lumpuh di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Melansir aljazeera.com, Selasa (3/3/2026),  komandan di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan selat tersebut “ditutup” dan memperingatkan setiap kapal yang mencoba melintas akan dibakar. Pernyataan itu disampaikan setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut.

Sedikitnya lima kapal tanker dilaporkan rusak, dua awak tewas, dan sekitar 150 kapal tertahan di perairan yang memisahkan Iran dan Oman. Lalu lintas pelayaran disebut turun hingga 80 persen, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Advertisement
Baca Juga :  AS Bersikeras Pertahankan Blokade, Trump Tolak Tawaran Iran Buka Hormuz

Harga minyak, Senin (2/3/2026) menembus 79,40 dollar AS per barel, setelah sebelumnya berada di kisaran 73 dollar AS per barel, Jumat (27/2/2026). Kenaikan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan menjelang dan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Data US Energy Information Administration menunjukkan mayoritas minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz dikirim ke Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap hampir 70 persen pengiriman. Selain minyak mentah, jalur ini juga dilalui sekitar seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global.

Baca Juga :  AS Kirim Pasukan Khusus ke Iran, Pilot Jet Tempur Berhasil Diselamatkan

Sejumlah operator pelayaran dan perusahaan energi dilaporkan menangguhkan aktivitas di kawasan tersebut. Premi asuransi risiko perang melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun, sementara sebagian kapal memilih memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang berdampak pada tambahan biaya dan waktu pengiriman.

Analis menilai penutupan total dalam jangka panjang sulit dipertahankan. Namun, gangguan terhadap rantai pasok regional dan lonjakan biaya distribusi dinilai berpotensi menekan stabilitas pasar energi dalam waktu dekat.

Editor : B. Supriyadi

Sumber : aljazeera.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel