Bos OpenAI Tepis Isu ChatGPT Boros Air, Soroti Tantangan Energi AI

OpenAI
CEO OpenAI, Sam Altman. Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon

TIMETODAY.ID, JAKARTA — CEO OpenAI, Sam Altman, angkat bicara mengenai kritik terhadap dampak lingkungan kecerdasan buatan (AI), khususnya terkait penggunaan air dan energi oleh pusat data. Ia menilai sebagian kekhawatiran publik soal konsumsi air AI tidak sesuai fakta.

Pernyataan tersebut disampaikan Altman di sela gelaran KTT India AI Impact ketika ia diminta menanggapi berbagai kritik terhadap perkembangan teknologi AI, termasuk tudingan bahwa layanan seperti ChatGPT membutuhkan air dalam jumlah besar untuk setiap pertanyaan pengguna.

Altman secara tegas menolak klaim tersebut.

Advertisement

Ia menyebut anggapan bahwa ChatGPT menggunakan “bergalon-galon air per pertanyaan” sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak benar, benar-benar gila,” dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Isu Air dan Pendinginan Data Center

Pusat data memang dikenal membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga komponen listrik tetap stabil dan tidak mengalami panas berlebih. Banyak fasilitas lama menggunakan air sebagai media pendingin, meski sejumlah data center generasi baru mulai beralih ke teknologi yang lebih hemat air.

Baca Juga :  Bill Gates Ramalkan Era ‘Kecerdasan Gratis’: Masa Depan AI yang Mengubah Segalanya

Meski efisiensi terus meningkat, laporan perusahaan teknologi air Xylem bersama Global Water Intelligence memproyeksikan kebutuhan pengambilan air untuk pendinginan data center berpotensi meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 25 tahun ke depan seiring melonjaknya permintaan komputasi global.

Altman mengakui konsumsi energi merupakan isu yang lebih realistis dibandingkan penggunaan air.

“Bukan per pertanyaan, tapi secara total, karena dunia menggunakan begitu banyak AI dan kita perlu beralih ke energi nuklir atau angin dan surya dengan sangat cepat,” ujarnya.

AI vs Otak Manusia

Dalam forum yang sama, Altman juga menanggapi pandangan pendiri Bill Gates yang menilai efisiensi otak manusia menunjukkan AI dapat berkembang menjadi lebih hemat energi di masa depan.

Altman menilai perbandingan tersebut sering kali tidak adil.

“Salah satu hal yang selalu tidak adil dalam perbandingan ini adalah orang bicara tentang berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI. Tapi juga butuh banyak energi untuk melatih manusia. Butuh sekitar 20 tahun kehidupan dan semua makanan yang Anda makan sebelum waktu itu, hingga Anda jadi pintar,” cetusnya.

Baca Juga :  Samsung Siap Rilis Galaxy S25 FE, Tab S11 Series, dan A17 4G di Indonesia

Menurut Altman, perbandingan yang lebih tepat adalah melihat energi yang digunakan AI saat menjawab pertanyaan setelah model selesai dilatih—proses yang dikenal sebagai inferensi. Pada tahap ini, AI dinilai jauh lebih hemat energi dibanding fase pelatihan awal.

Lonjakan Investasi dan Kekhawatiran Global

Pesatnya perkembangan AI mendorong pemerintah dan perusahaan teknologi menginvestasikan miliaran dolar untuk pembangunan pusat data baru. Laporan International Monetary Fund (IMF) mencatat konsumsi listrik data center dunia pada 2023 sudah setara dengan penggunaan listrik negara besar seperti Jerman atau Prancis, tak lama setelah peluncuran ChatGPT.

Di sisi lain, sejumlah komunitas lokal—terutama di Amerika Serikat—mulai menolak proyek pembangunan fasilitas AI baru karena kekhawatiran terhadap beban jaringan listrik serta potensi kenaikan biaya energi bagi masyarakat.

Perdebatan mengenai dampak lingkungan AI pun diperkirakan akan terus berkembang, seiring teknologi ini semakin menjadi tulang punggung ekonomi digital global.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel