TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sebuah sekolah Katolik di Italia, Iqbhal Masih, yang berlokasi di Pioltello, wilayah timur laut Milan, sempat menjadi sorotan nasional setelah memutuskan meliburkan kegiatan belajar saat akhir Ramadan untuk merayakan Idulfitri.
Sekolah yang berada di kota Pioltello—kota berpenduduk sekitar 40.000 jiwa dengan tingkat imigran cukup tinggi—itu diketahui memiliki sekitar 40 persen siswa beragama Islam.
Alasan Sekolah Meliburkan Siswa
Kepala sekolah Iqbhal Masih, Alessandro Fanfoni, menjelaskan bahwa keputusan menutup sekolah pada akhir Ramadan 2024 diambil berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Saat Idulfitri, hanya tiga atau empat siswa Muslim yang tetap masuk sekolah.
“Sebagian besar hari itu menjadi hari yang sia-sia,” ujarnya.
Pihak sekolah memanfaatkan aturan yang memperbolehkan penambahan tiga hari libur tambahan di luar kalender hari libur resmi regional dan nasional. Dewan pengelola sekolah—yang mencakup taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama—kemudian memutuskan menjadikan Hari Raya Idulfitri sebagai hari libur sekolah.
Kebijakan serupa juga diterapkan pada Ramadan 2025. Namun untuk Ramadan 2026, belum ada laporan resmi terkait keputusan serupa.
Picu Kontroversi Nasional
Keputusan tersebut memicu polemik di tingkat nasional. Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, menyebut langkah itu bertentangan dengan nilai dan tradisi Italia.
Ia mengkritik bahwa di saat sebagian pihak ingin menghapus simbol-simbol Katolik seperti salib di ruang kelas agar tidak menyinggung pihak lain, justru ada sekolah yang menutup kegiatan untuk memperingati hari raya Islam.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Italia, Giuseppe Valditara, meminta klarifikasi kepada pihak sekolah. Ia menegaskan bahwa penambahan hari libur pada kalender pendidikan seharusnya menjadi kewenangan pemerintah daerah dan nasional.
Dukungan dari Keuskupan Milan
Meski menuai kritik, keputusan sekolah mendapat dukungan dari Keuskupan Agung Milan. Diakon Roberto Pagani, yang memimpin kantor ekumenisme dan dialog antaragama sejak 2013, menyatakan kebijakan tersebut dapat menjadi jembatan dialog antarumat beragama.
Menurutnya, langkah itu mencerminkan upaya membangun saling pengertian di antara generasi muda yang berasal dari latar belakang kepercayaan berbeda. Ia juga menilai umat Islam di Italia turut menunjukkan kebersamaan saat perayaan Natal dan Paskah umat Katolik.
“Kami berupaya menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang dari agama lain yang tinggal di wilayah kami, dan yang ingin berdialog, berinteraksi, dan berintegrasi,” ujarnya.
Kasus ini pun memunculkan diskusi lebih luas di Italia mengenai integrasi, toleransi beragama, serta batas kewenangan lembaga pendidikan dalam menetapkan kebijakan kalender akademik.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































