TIMETODAY.ID, BOGOR – Sosok badak bercula satu dengan ikat kepala khas Banten, mengenakan pangsi hitam, dan menenteng tas koja di punggungnya, kini menjadi wajah baru Hari Pers Nasional 2026. Namanya Si Juhan, akronim dari Si Jurnalis Handal, yang dipilih bukan sekadar untuk menarik perhatian, melainkan membawa pesan mendalam tentang kondisi dan harapan bagi dunia kewartawanan Indonesia.
Pilihan badak Jawa sebagai maskot bukanlah kebetulan. Satwa endemik yang kini hanya tersisa sekitar 80 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon ini adalah potret ketahanan di tengah kepunahan. Seperti halnya pers Indonesia yang kerap berhadapan dengan tekanan, baik politik, ekonomi, maupun sosial, namun tetap bertahan menjalankan fungsinya sebagai pilar demokrasi.
“Badak Jawa itu tangguh, bekerja senyap, tapi berdampak. Persis seperti wartawan yang bekerja di lapangan, mencari kebenaran tanpa gembar-gembor,” demikian filosofi yang terkandung dalam pemilihan maskot yang akan menyambut ribuan insan pers di Banten pada perayaan HPN 2026.
Setiap elemen dalam penampilan Si Juhan dirancang dengan cermat, membawa makna yang melampaui sekadar estetika. Ikat kepala atau lomar yang melingkar di kepalanya adalah penghormatan pada tradisi Banten sekaligus simbol integritas moral yang tidak tergoyahkan, nilai yang menjadi tulang punggung jurnalisme berkualitas.
Tangan Si Juhan yang melambai ramah bukan sekadar sapaan. Ini adalah undangan, keterbukaan, dan semangat inklusif yang seharusnya melekat dalam diri setiap jurnalis. Pers yang baik adalah pers yang dekat dengan rakyat, mudah didekati, dan tidak membangun menara gading.
Ekspresi ceria dan mata yang ekspresif menggambarkan karakter pers yang terbuka dan komunikatif. Di tengah skeptisisme publik terhadap media, kedekatan emosional dan kepercayaan menjadi aset yang tak ternilai.
Sementara pena dan buku catatan yang digenggamnya adalah instrumen paling fundamental dalam jurnalisme, mencatat fakta, menghimpun suara masyarakat, merekam dinamika zaman. Di era digital yang serba cepat, catatan yang teliti dan akurat justru menjadi pembeda antara jurnalisme berkualitas dengan informasi yang sekadar viral.
Pangsi hitam yang dikenakan Si Juhan membawa pesan tentang kesederhanaan, kejujuran, dan kerendahan hati, nilai-nilai yang kian langka namun sangat dibutuhkan dalam dunia pers modern. Pakaian tradisional khas Banten ini mengingatkan bahwa pers Indonesia memiliki akar budaya yang kuat, yang seharusnya menjadi landasan dalam menjalankan profesi.
Tas koja di punggungnya adalah metafora ruang penghimpun informasi dan aspirasi publik. Dalam konteks keberlanjutan jurnalisme, tas ini juga melambangkan tanggung jawab pers untuk menjaga keseimbangan, antara kecepatan dan akurasi, antara kepentingan publik dan etika profesi.
Kartu pers yang terselip di tas bukan sekadar aksesori. Ini adalah simbol identitas, otoritas, dan profesionalisme yang membedakan jurnalis dari penyebar informasi biasa. Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, kartu pers menjadi penanda akuntabilitas.
Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat
Kehadiran Si Juhan di HPN 2026 tak lepas dari tema besar yang diusung: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Tema ini menegaskan bahwa kesehatan ekosistem pers bukan hanya soal kebebasan berekspresi, tetapi juga fondasi bagi ekonomi yang kuat dan bangsa yang berdaulat.
Pers yang sehat adalah pers yang tidak hanya bebas dari tekanan politik, tetapi juga memiliki model bisnis yang berkelanjutan, sumber daya manusia yang kompeten, dan independensi editorial yang terjaga. Dalam konteks ini, Si Juhan hadir sebagai pengingat bahwa ketangguhan pers Indonesia dibangun dari integritas, profesionalisme, dan kedekatan dengan nilai-nilai lokal.
Seperti badak Jawa yang terus berjuang bertahan di habitatnya yang semakin sempit, pers Indonesia juga menghadapi tantangan yang tidak ringan: disrupsi teknologi, perubahan pola konsumsi informasi, hingga tekanan ekonomi yang mengancam kelangsungan banyak media. Namun, seperti filosofi yang diwakili Si Juhan, pers Indonesia diharapkan tetap berdiri tegak—jenaka namun berwibawa, ramah namun tidak kehilangan prinsip.
Banten, sebagai tuan rumah HPN 2026, menyambut dengan maskot yang merepresentasikan semangat bersahaja, jujur, berintegritas, dan berakar kuat pada nilai budaya lokal. Si Juhan bukan hanya maskot, melainkan cermin dari cita-cita pers Indonesia yang ingin tetap relevan di tengah perubahan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga kebenaran dan suara rakyat.








































