TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setiap tanggal 4 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Sedunia atau World Cancer Day. Momentum global ini menjadi pengingat penting tentang upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan kanker, penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.
Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan internasional yang mendorong masyarakat untuk memahami kanker secara lebih luas—bukan hanya sebagai penyakit, tetapi juga sebagai persoalan kemanusiaan yang menyentuh kehidupan jutaan orang.
Berawal dari Gerakan Global Melawan Kanker
Hari Kanker Sedunia digagas oleh Union for International Cancer Control (UICC) pada 2008. Organisasi berbasis di Jenewa, Swiss, yang berdiri sejak 1993 ini berfokus pada upaya global dalam memerangi kanker serta mendorong kemajuan riset medis.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Upaya global untuk menekan angka kematian akibat kanker pun terus dilakukan melalui berbagai program edukasi, pencegahan, dan pengobatan.
Secara resmi, Hari Kanker Sedunia ditetapkan dalam KTT Dunia Melawan Kanker pertama yang digelar di Paris pada tahun 2000. Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen penting bernama Piagam Paris Melawan Kanker atau Charter of Paris Against Cancer yang berisi 10 pasal komitmen global untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, memperkuat penelitian, serta mendorong upaya pencegahan dan pengobatan. Pasal X dalam piagam tersebut menetapkan 4 Februari sebagai Hari Kanker Sedunia.
Tema 2025-2027: “United by Unique”
Untuk periode 2025 hingga 2027, kampanye Hari Kanker Sedunia mengangkat tema “United by Unique”. Tema ini menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat dalam perawatan kanker.
Kanker tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, sosial, hingga ekonomi penderitanya. Dampaknya bahkan meluas hingga keluarga dan komunitas di sekitar pasien.
Selama ini, pendekatan pengobatan kanker sering kali lebih menitikberatkan pada aspek medis dan biologis. Padahal, faktor sosial seperti kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, serta dukungan keluarga juga berperan besar dalam proses penyembuhan.
Pendekatan perawatan yang berpusat pada manusia hadir sebagai upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih menyeluruh. Model ini menempatkan kebutuhan, nilai, serta partisipasi pasien dan keluarga sebagai bagian penting dalam perencanaan dan evaluasi pengobatan.
Kanker Lebih dari Sekadar Diagnosis
Setiap diagnosis kanker membawa cerita yang berbeda. Ada kisah tentang perjuangan, ketahanan, kehilangan, harapan, hingga cinta. Karena itu, pendekatan perawatan yang dilandasi empati dinilai mampu memberikan hasil kesehatan yang lebih baik.
Melalui peringatan Hari Kanker Sedunia, masyarakat global diajak untuk melihat pasien kanker sebagai individu dengan cerita dan kebutuhan unik, bukan sekadar angka statistik.
Perubahan Nyata yang Didorong Kampanye Global
Untuk mewujudkan sistem perawatan kanker yang lebih manusiawi, sejumlah langkah perubahan terus didorong.
Pertama, keterlibatan masyarakat dan komunitas menjadi elemen penting dalam pengembangan layanan kesehatan kanker. Pengalaman langsung pasien dan keluarga dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan dan sistem layanan yang lebih responsif.
Kedua, model perawatan kanker perlu diarahkan menjadi lebih berkelanjutan dan terkoordinasi. Perawatan tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga mencakup masa pemulihan, kualitas hidup jangka panjang, hingga dukungan bagi keluarga pasien.
Ketiga, prinsip kesetaraan dan inklusi harus menjadi dasar dalam tata kelola layanan kesehatan. Hambatan seperti kondisi geografis, bahasa, ekonomi, disabilitas, hingga stigma sosial perlu diatasi agar layanan kanker dapat diakses secara adil.
Keempat, reformasi sistem perawatan kanker membutuhkan dukungan kebijakan, kepemimpinan, serta tenaga kesehatan yang siap menerapkan model layanan yang lebih empatik dan kolaboratif.
Menguatkan Solidaritas Global
Hari Kanker Sedunia menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan kanker membutuhkan kolaborasi semua pihak—mulai dari tenaga medis, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat luas.
Harapannya, masa depan perawatan kanker dapat lebih berfokus pada kebutuhan manusia, menghadirkan layanan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga memulihkan kualitas hidup para penyintas.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































