TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sebuah dokumen yang baru dibuka ke publik kembali menyeret nama Jeffrey Epstein ke pusaran kontroversi internasional. Kali ini, dokumen tersebut mengungkap rencana seorang rekan Epstein untuk memanfaatkan kekacauan politik Libya demi mengakses aset negara yang dibekukan di berbagai belahan dunia.
Dokumen itu dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Jumat (30/1) dan memuat korespondensi email yang dikirimkan kepada Epstein.
Dalam email tersebut, sang pengirim menggambarkan apa yang disebutnya sebagai peluang besar di bidang keuangan dan hukum, yang muncul akibat ketidakstabilan politik dan ekonomi Libya pada periode pasca-pemberontakan.
Email itu tertanggal Juli 2011, hanya beberapa bulan setelah pemberontakan yang didukung NATO terhadap Presiden Libya saat itu, Muammar Gaddafi, meletus. Gaddafi sendiri akhirnya tewas pada Oktober di tahun yang sama, di tengah konflik yang mengguncang negara tersebut.
Dalam isi email, disebutkan bahwa sekitar USD 80 miliar dana milik Libya diyakini dibekukan secara internasional, termasuk sekitar USD 32,4 miliar yang tersimpan di Amerika Serikat. Namun, angka itu diyakini hanyalah sebagian kecil dari total aset yang sesungguhnya.
“Dan diperkirakan bahwa angka sebenarnya berkisar antara tiga hingga empat kali lipat dari angka ini dalam aset negara yang dicuri dan disalahgunakan,” demikian bunyi email tersebut dikutip dari detik.com.
Email itu bahkan merinci potensi keuntungan finansial yang dapat diperoleh jika sebagian kecil dana tersebut berhasil diidentifikasi dan dipulihkan.
“Jika kita dapat mengidentifikasi/memulihkan 5 persen hingga 10 persen dari uang ini dan menerima 10 persen hingga 25 persen sebagai kompensasi, kita berbicara tentang miliaran dolar,” tulis dokumen itu.
Lebih jauh, pengirim email mengklaim telah mendapatkan dukungan dari mantan pejabat badan intelijen luar negeri Inggris, MI6, serta badan intelijen Israel, Mossad. Mereka disebut bersedia membantu proses penelusuran dan pemulihan aset yang digambarkan sebagai “aset curian”.
Tak hanya soal dana yang dibekukan, email tersebut juga menyoroti prospek ekonomi Libya ke depan. Negara itu disebut akan membutuhkan dana besar untuk membangun kembali infrastruktur dan memulihkan perekonomian yang hancur akibat konflik.
“Tetapi daya tarik sebenarnya adalah jika kita bisa menjadi andalan mereka karena mereka berencana untuk menghabiskan setidaknya USD 100 miliar tahun depan untuk membangun kembali negara mereka dan mendorong perekonomian,” kata email tersebut.
Dalam korespondensi itu, Libya digambarkan sebagai negara dengan cadangan energi yang melimpah serta tingkat literasi yang relatif tinggi—dua faktor yang dinilai dapat menunjang peluang inisiatif hukum dan keuangan.
Email tersebut juga mengungkap adanya pembicaraan dengan sejumlah firma hukum internasional untuk bekerja dengan skema pembayaran berbasis keberhasilan.
Rilis dokumen ini kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai jaringan, ambisi, dan manuver yang melibatkan Jeffrey Epstein dan lingkaran terdekatnya, jauh melampaui kasus pidana yang selama ini melekat pada namanya.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































