TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kepulauan raksasa di Arktik, Greenland, kini berada di persimpangan geopolitik yang menegangkan. Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menguasai wilayah ini memunculkan pertanyaan besar soal keamanan dan kepastian perlindungan. Meski Greenland merupakan bagian dari Denmark yang tergabung dalam NATO, ancaman datang dari negara yang sama-sama berada dalam aliansi pertahanan tersebut.
Ketua DPR Greenland, Bentiaraq Ottosen, menyatakan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa isu penerapan Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara bisa muncul jika ada ancaman langsung terhadap wilayahnya.
“Kami adalah anggota NATO, tapi NATO juga adalah AS. Kita harus mempertimbangkan Pasal 5. Mereka (AS) mengancam integritas dan wilayah kami. Denmark harus bertindak, tapi kami kira situasi di lapangan harus dilihat. Ya, karena situasinya sangat sulit,” kata Ottosen, dikutip Rabu (28/1/2026).
Ottosen menambahkan, dalam kondisi seperti ini, sulit membayangkan pasukan NATO dari Eropa akan menentang tentara AS jika Washington benar-benar mencoba menguasai Greenland.
Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi. Secara teori, ini memungkinkan pengerahan bantuan militer untuk melindungi anggota yang diserang. Namun, konteks Greenland menimbulkan dilema unik karena ancamannya berasal dari sesama anggota NATO.
Presiden Trump sendiri berkali-kali menegaskan keinginannya agar Greenland bergabung dengan Amerika Serikat, dengan dalih keamanan nasional. Bahkan, ia pernah menyebut keputusan Amerika “bodoh” karena menyerahkan Greenland kepada Denmark setelah Perang Dunia II.
Sementara itu, pihak Denmark dan otoritas Greenland terus memperingatkan AS agar menghormati integritas wilayah pulau tersebut, menegaskan bahwa Greenland tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Denmark dan harus dilindungi sesuai hukum internasional.
Di tengah ketegangan ini, nasib Greenland menjadi simbol kompleksitas hubungan aliansi pertahanan global, di mana loyalitas, keamanan, dan geopolitik saling bertaut dalam dilema yang sulit dipecahkan.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































