Joko Anwar Bawa Ghost in the Cell Menembus Kancah Internasional di Berlin

Ghost in the Cell
Ghost in the Cell film karya Joko Anwar. Foto: RAPI Films

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Film Indonesia Ghost in the Cell, arahan sutradara Joko Anwar, berhasil menembus ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, bersaing dalam kategori Forum.

Kesuksesan ini menegaskan film yang dibintangi Abimana Aryasatya mampu melampaui batasan genre konvensional dan menghadirkan pesan sosial-politik yang kuat.

Kategori Forum di Berlinale dikenal sangat selektif, hanya menampilkan karya dengan visi sinematik progresif, berani, dan sarat kritik sosial-politik.

Advertisement

Sebelumnya, film Asia lain yang pernah masuk kategori ini antara lain Exhuma (2024) dan Snowpiercer (2014).

“Ini adalah film karya orang-orang yang menganggap serius pekerjaan mereka dan dampaknya. Film yang akan mempengaruhi koeksistensi, perlawanan, rekonsiliasi, sejarah, dan kisah kita,” ujar Barbara Wurm, perwakilan Berlinale 2026.

Baca Juga :  Catat Sekarang! 4 Long Weekend Mei 2026 yang Sayang Dilewatkan

Ia menambahkan bahwa film tersebut menonjolkan nilai kebersamaan, keindahan, dan solidaritas yang membentuk masa kini serta masa depan sosial, budaya, ekologis, dan politik.

Sutradara Joko Anwar menyatakan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurutnya, kurasi Berlinale Forum tidak hanya menilai narasi, tetapi juga relevansi sosial dan politik karya terhadap kondisi negara asalnya.

“Kategori ini dikenal karena kurasinya yang tidak hanya terpaku pada narasi, tetapi juga kekuatan relevansi sosial dan politik,” kata Joko Anwar.

Produser Tia Hasibuan menambahkan bahwa masuknya Ghost in the Cell di Berlinale Forum merupakan pengakuan terhadap bahasa sinema dan ide besar yang diusung.

Baca Juga :  Film “Pangku” Karya Reza Rahadian Torehkan Prestasi di Busan International Film Festival 2025

Film ini akan tampil di hadapan komunitas sinema global, termasuk kurator, kritikus, programmar festival, dan pelaku industri film.

Ghost in the Cell berlatar di sebuah penjara Indonesia yang sarat ketidakadilan. Film ini menggabungkan unsur horor dengan kritik tajam terhadap sistem kekuasaan.

Diproduksi oleh Come and See Pictures, RAPI Films, dan Legacy Pictures, film ini direncanakan dirilis secara global oleh Barunson E&A.

“Ini membuktikan film memiliki kekuatan cerita, bahasa sinema yang apik, serta gagasan kuat yang menarik untuk segera dinikmati penikmat film Tanah Air,” ujar Tia Hasibuan.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel