Prabowo Ingin Indonesia Mandiri Teknologi Chip untuk Industri Otomotif

Prabowo
TSMC dari Taiwan menempati posisi teratas sebagai produsen chip semikonduktor global. Foto: Istimewa

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (11/1/2025). Salah satu fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah dorongan agar Indonesia mulai mengembangkan teknologi chip semikonduktor secara mandiri.

Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet. Rapat dihadiri sejumlah pejabat penting, antara lain Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Turut hadir pula Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani.

Advertisement

Dalam rapat tersebut, setidaknya ada empat agenda utama yang dibahas. Pertama, penguatan industri tekstil dan garmen nasional, termasuk revitalisasi rantai pasok dari hulu ke hilir.

Kedua, penguatan sektor otomotif dan elektronik melalui investasi pengembangan teknologi semikonduktor. Langkah ini diarahkan untuk membangun fondasi industri chip masa depan Indonesia yang dapat menopang kebutuhan industri otomotif, digital, dan elektronik.

Baca Juga :  Bos Toyota Sebut Mobil Listrik Belum Tentu Lebih Ramah Lingkungan, Ini Alasannya

Ketiga, pembahasan perkembangan rencana peletakan batu pertama (groundbreaking) enam titik baru proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai US$ 6 miliar yang dijadwalkan berlangsung pada awal Februari 2026.

Keempat, rencana peresmian proyek infrastruktur energi terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina Balikpapan yang dijadwalkan pada Senin, 12 Januari 2026.

Teknologi chip semikonduktor sendiri merupakan komponen krusial dalam industri otomotif modern. Seiring berkembangnya fitur dan spesifikasi kendaraan yang semakin canggih, kebutuhan terhadap semikonduktor terus meningkat, baik untuk sistem keamanan, efisiensi energi, maupun teknologi digital di kendaraan.

Pentingnya semikonduktor sempat terlihat jelas saat pandemi Covid-19 pada 2020–2021, ketika gangguan rantai pasok global menyebabkan produksi mobil dan sepeda motor di berbagai negara terhambat.

Saat ini, Indonesia belum memiliki perusahaan pembuat semikonduktor. Padahal, pada 1973 Indonesia pernah memiliki industri semikonduktor yang dibangun oleh dua perusahaan multinasional asal Amerika Serikat, Fairchild Semiconductors dan National Semiconductors.

Baca Juga :  10 Game Penghasil Uang yang Sering Disebut Terbukti Membayar, Bisa ke DANA hingga GoPay

Namun, sejak dekade 1980-an, industri semikonduktor global mengalami perubahan model bisnis. Sistem integrasi penuh dari hulu ke hilir atau Integrated Device Manufacturer (IDM) mulai terpecah menjadi beberapa segmen, seperti fabless (desain chip), foundry (fabrikasi), IDM, serta OSAT (assembly dan testing). Perubahan ini memicu tumbuhnya banyak perusahaan rintisan semikonduktor di berbagai negara.

Sayangnya, akibat persoalan ketenagakerjaan, investor pabrik semikonduktor memilih memindahkan basis produksi ke Malaysia pada 1985. Sejak saat itu, Indonesia tertinggal dan beralih menjadi negara pengimpor semikonduktor, sebuah kondisi yang dinilai sebagai kerugian strategis bagi industri nasional.

Dorongan Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali industri semikonduktor diharapkan menjadi langkah awal bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif dan teknologi di masa depan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel