Leukemia Anak Tanpa Gejala Jelas: Kenali Faktor Risiko dan Pencegahannya

Leukemia
ilustrasi anak yang terkena Leukemia. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA Leukemia menjadi salah satu kanker darah yang paling sering menyerang anak-anak. Meski begitu, penyakit ini kerap muncul tanpa gejala yang jelas, membuat orang tua bertanya-tanya mengenai penyebabnya.

Banyak yang beranggapan bahwa leukemia pada anak semata-mata disebabkan faktor keturunan. Padahal, “penyakit ini tidak selalu berkaitan dengan riwayat keluarga,” kata para ahli.

Faktor lain, seperti lingkungan hingga kondisi medis tertentu, diduga juga berperan, meskipun pada sebagian besar kasus penyebab pastinya masih belum bisa dipastikan.

Advertisement

Leukemia Anak: Lebih dari Sekadar Faktor Genetik

Leukemia pada anak berbeda dari kanker darah pada orang dewasa. Penyakit ini terjadi ketika sumsum tulang memproduksi sel darah putih abnormal dalam jumlah berlebihan, sehingga mengganggu fungsi darah sehat.

Gejalanya pun sering tidak spesifik, seperti pucat, mudah lelah, demam berkepanjangan, atau infeksi yang sering kambuh. Anak juga dapat mengalami mimisan berulang, memar yang mudah timbul, hingga nyeri tulang atau sendi akibat penumpukan sel abnormal.

Beberapa faktor risiko telah dikenali:

  1. Faktor Genetik
    Beberapa kelainan genetik sejak lahir dapat meningkatkan risiko leukemia. Misalnya, anak dengan Down syndrome memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena leukemia karena kelainan kromosom memengaruhi perkembangan sel darah. Sindrom Li-Fraumeni, akibat mutasi pada gen TP53, juga meningkatkan kerentanan terhadap berbagai jenis kanker, termasuk leukemia. Begitu pula anemia Fanconi, yang membuat sumsum tulang gagal memproduksi sel darah secara normal.
  2. Riwayat Keluarga dengan Leukemia
    “Kasus leukemia sebagai penyakit turunan sangat sedikit,” kata para peneliti. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat leukemia memang berisiko sedikit lebih tinggi, tapi sebagian besar anak pengidap leukemia tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini.
  3. Paparan Radiasi Tinggi
    Radiasi dosis tinggi, baik dari terapi medis maupun kecelakaan nuklir, dapat merusak sel di sumsum tulang. Anak yang terpapar radiasi sejak usia muda memiliki risiko lebih tinggi mengalami leukemia. Paparan radiasi sehari-hari, seperti rontgen, sejauh ini belum terbukti memicu leukemia.
  4. Paparan Bahan Kimia Tertentu
    Beberapa bahan kimia, seperti benzena yang terdapat di industri atau polusi udara, dapat memicu perubahan genetik sel darah di sumsum tulang. Meski kasus leukemia akibat benzena di Indonesia tergolong jarang, paparan jangka panjang tetap perlu diwaspadai.
  5. Infeksi Virus Tertentu
    Infeksi virus Epstein-Barr (EBV), penyebab mononukleosis, diduga dapat meningkatkan risiko leukemia pada anak. “Hubungan pasti serta mekanisme terjadinya leukemia akibat virus masih terus diteliti,” jelas para peneliti.
  6. Kelainan atau Gangguan Sistem Imun
    Anak dengan sistem imun lemah, misalnya karena defisiensi imun atau penggunaan obat penekan kekebalan setelah transplantasi, berisiko lebih tinggi terkena leukemia. Kondisi autoimun yang menyerang sumsum tulang juga perlu pengawasan intensif karena dapat meningkatkan risiko.
Baca Juga :  Kenali Batas Kolesterol Normal, Langkah Kecil untuk Jantung yang Lebih Sehat

Mitos yang Sering Salah Kaprah

Beberapa hal yang kerap dianggap penyebab leukemia ternyata belum terbukti secara ilmiah:

  • Makanan instan atau bahan pengawet
    Hingga kini tidak ada bukti kuat bahwa MSG, pengawet, atau pewarna buatan menyebabkan leukemia.
  • Stres atau tekanan emosional
    Stres lebih memengaruhi sistem kekebalan tubuh, bukan perubahan genetik sel yang memicu leukemia.
  • Paparan gelombang elektromagnetik
    Penggunaan ponsel atau laptop sehari-hari menghasilkan gelombang elektromagnetik rendah dan belum terbukti memicu leukemia.
Baca Juga :  Mengenal Salmonella, Bakteri yang Jadi Pemicu Keracunan Massal di Bogor

Deteksi Dini dan Pencegahan

Mengetahui faktor risiko leukemia membantu orang tua lebih waspada. Meski sebagian besar kasus muncul tanpa penyebab jelas, langkah pencegahan tetap penting:

  • Perhatikan perubahan fisik dan perilaku anak, seperti pucat, mudah memar, sering demam, atau nyeri tulang.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama jika anak memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga.
  • Hindari paparan bahan kimia dan radiasi berbahaya.
  • Pastikan nutrisi seimbang, cukup istirahat, olahraga rutin, dan imunisasi lengkap.
  • Ajarkan kebiasaan hidup sehat, termasuk mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan.

“Bila melihat gejala yang tidak biasa pada anak, segera konsultasikan ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” saran para ahli.

Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, deteksi dini leukemia pada anak dapat dilakukan, sehingga penanganan dapat lebih cepat dan efektif.***

Editor : Syafira

Sumber : alodokter.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel