Korban Tewas Kerusuhan Iran Tembus 500 Orang, Teheran Ancam Pangkalan AS

iran
Korban Tewas Kerusuhan Iran Tembus 500 Orang, Teheran Ancam Pangkalan AS Foto: Reuters

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gelombang kerusuhan yang mengguncang Iran terus menelan korban jiwa. Hingga 11 Januari 2025, sebuah kelompok hak asasi manusia melaporkan jumlah korban tewas telah mencapai sekitar 500 orang, menandai salah satu periode paling berdarah dalam rangkaian demonstrasi yang melanda negara tersebut.

Mengutip laporan Reuters dan The Strait Times, Senin (12/1/2026), angka korban terus bertambah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Situasi kian memanas setelah Teheran melontarkan ancaman akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat apabila Presiden AS Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk melakukan intervensi demi membela para pengunjuk rasa.

Pemerintahan ulama Republik Islam saat ini menghadapi gelombang demonstrasi terbesar sejak 2022. Di sisi lain, Trump secara terbuka dan berulang kali menyatakan kemungkinan campur tangan Amerika Serikat apabila aparat Iran menggunakan kekerasan terhadap massa aksi.

Advertisement
Baca Juga :  Liliek Prisbawono Adi Resmi Jadi Hakim MK, Diambil Sumpah di Hadapan Prabowo

Kelompok hak asasi manusia HRANA, yang berbasis di Amerika Serikat, menyebut pihaknya telah memverifikasi 490 pengunjuk rasa tewas serta 48 anggota aparat keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap sejak demonstrasi merebak.

Di Washington, Presiden Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada 13 Januari terkait berbagai opsi kebijakan terhadap Iran. Opsi tersebut mencakup kemungkinan serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, hingga dukungan daring bagi sumber-sumber anti-pemerintah di Iran.

Ancaman balasan dari Teheran pun menguat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, sebelumnya memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan langkah yang keliru.

“Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf.

Baca Juga :  Geram Tarif Tinggi Trump, India Gencarkan Boikot Produk AS

Demonstrasi di Iran sendiri mulai pecah pada akhir Desember, dipicu oleh krisis mata uang yang memburuk. Namun, seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi seruan perubahan besar terhadap sistem pemerintahan yang dinilai otoriter. Pemerintah Iran merespons dengan ancaman penindakan tegas, dan menurut kelompok hak asasi manusia, puluhan demonstran tewas dalam bentrokan dengan aparat.

Di tengah tekanan domestik dan ancaman eksternal, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan sikap keras pemerintah.

Ia menyatakan pemerintah “tidak akan mundur” dalam menghadapi gelombang protes berskala besar yang kini mengguncang stabilitas politik dan keamanan negara tersebut.

Situasi yang terus memanas ini menempatkan Iran di persimpangan berbahaya—antara gejolak internal yang belum mereda dan bayang-bayang eskalasi konflik dengan kekuatan global.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel