TIMETODAY.ID, JAKARTA — Spasmodic dysphonia merupakan gangguan suara yang terjadi akibat kontraksi tiba-tiba dan tidak terkendali pada otot-otot pita suara. Kondisi ini membuat suara penderitanya terdengar patah-patah, tegang, serak, bahkan bisa menghilang secara mendadak saat berbicara.
Tak jarang, spasmodic dysphonia disalahartikan sebagai radang tenggorokan biasa. Gejalanya yang muncul perlahan dan cenderung samar di tahap awal membuat banyak orang mengabaikannya.
Padahal, gangguan ini bersifat neurologis dan membutuhkan penanganan medis khusus karena dapat berdampak jangka panjang pada kemampuan berbicara dan kualitas hidup.
Spasmodic dysphonia paling sering menyerang orang dewasa, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan. Diagnosis yang tepat serta terapi yang sesuai menjadi kunci agar penderita tetap dapat berkomunikasi secara optimal.
Gangguan Saraf yang Menyerang Pita Suara
Secara medis, spasmodic dysphonia merupakan kelainan neurologis yang menyebabkan otot pita suara berkontraksi secara abnormal ketika seseorang berbicara. Kontraksi ini terjadi di luar kendali dan mengganggu aliran udara, sehingga suara sulit keluar atau terputus di tengah kalimat.
Gangguan ini termasuk dalam kelompok distonia laring, yakni kelainan gerak pada otot-otot laring atau kotak suara. Gejalanya cenderung menetap dan dapat memburuk seiring waktu.
Beberapa tanda yang umum dialami penderita antara lain suara terdengar kaku, serak, tegang, atau tiba-tiba hilang saat berbicara.
Kesulitan biasanya semakin terasa saat berbicara panjang atau dalam kondisi stres. Menariknya, suara sering kali terdengar lebih baik saat berbisik, tertawa, atau bernyanyi, dan tidak ditemukan kelainan fisik pada tenggorokan.
Dampaknya tidak hanya pada fungsi suara, tetapi juga kepercayaan diri, relasi sosial, hingga performa kerja, terutama pada profesi yang bergantung pada komunikasi verbal.
Tiga Jenis Spasmodic Dysphonia
Berdasarkan pola kontraksi otot pita suara, spasmodic dysphonia terbagi menjadi tiga jenis utama.
Jenis yang paling sering ditemui adalah adductor spasmodic dysphonia, ketika pita suara menutup terlalu rapat saat berbicara. Akibatnya, suara terdengar berat, tegang, parau, dan seperti tertahan atau “dicekik”.
Sebaliknya, pada abductor spasmodic dysphonia, pita suara justru terbuka secara tiba-tiba. Hal ini membuat suara menjadi sangat pelan, lemah, atau hilang sejenak di tengah ucapan.
Sementara itu, mixed spasmodic dysphonia merupakan kombinasi dari kedua tipe tersebut. Penderitanya bisa mengalami suara yang berganti-ganti antara terlalu tegang dan terlalu pelan, dengan pola yang sulit diprediksi. Jenis ini tergolong paling kompleks dalam penanganannya.
Penyebab Masih Misterius
Hingga kini, penyebab pasti spasmodic dysphonia belum sepenuhnya diketahui. Para ahli menduga gangguan ini berkaitan dengan masalah pada basal ganglia, bagian otak yang berfungsi mengatur gerakan otot.
Sejumlah faktor diduga meningkatkan risiko terjadinya spasmodic dysphonia, seperti perubahan hormonal, riwayat keluarga dengan gangguan saraf, stres psikologis berkepanjangan, serta cedera pada kepala atau leher.
Meski demikian, tidak semua orang dengan faktor risiko tersebut akan mengalami gangguan ini.
Diagnosis Butuh Evaluasi Mendalam
Menegakkan diagnosis spasmodic dysphonia tidak bisa dilakukan secara sederhana. Pemeriksaan harus melibatkan dokter spesialis THT dan saraf.
Prosesnya mencakup wawancara medis mendalam, pemeriksaan fisik, laringoskopi untuk melihat gerakan pita suara, serta analisis suara oleh terapis wicara.
Langkah ini penting untuk membedakan spasmodic dysphonia dari gangguan suara lain, seperti laringitis kronis, polip pita suara, atau gangguan psikis.
Terapi Fokus pada Kualitas Hidup
Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan spasmodic dysphonia sepenuhnya. Penanganan difokuskan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Salah satu terapi utama adalah injeksi botulinum toxin (botox) ke otot pita suara untuk mengurangi kejang. Efeknya dapat bertahan tiga hingga enam bulan dan perlu diulang secara berkala.
Selain itu, terapi suara membantu penderita mempelajari teknik berbicara yang lebih efisien dan mengurangi ketegangan otot. Pada beberapa kasus, obat-obatan atau bahkan tindakan operasi bisa dipertimbangkan, meski operasi menjadi pilihan terakhir karena risikonya.
Spasmodic dysphonia bukan sekadar gangguan suara biasa. Jika perubahan suara berlangsung lama, sering terputus, atau hilang tanpa sebab jelas, segera periksakan diri ke dokter THT.
Penanganan sejak dini dapat membantu penderita tetap berkomunikasi dengan baik dan menjaga kualitas hidupnya.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































