
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Pernah merasa makanan atau produk favoritmu seolah cepat habis, padahal kemasan dan harganya telihat sama? Jika iya, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan fenomena yang disebut shrinkflation. Ini bukan perasaan semata, melainkan strategi bisnis yang kerap muncul di tengah tekanan inflasi.
Shrinkflation adalah praktik mengurangi kuantitas atau ukuran produk tanpa menurunkan harga jualnya. Artinya, konsumen tetap membayar nominal yang sama, tetapi mendapatkan isi yang lebih sedikit. Perubahan ini sering kali luput dari perhatian karena kemasan dibuat semirip mungkin dengan versi sebelumnya.
Fenomena ini biasanya terjadi ketika biaya produksi meningkat, mulai dari bahan baku, distribusi, hingga tenaga kerja. Alih-alih menaikkan harga secara langsung, produsen memilih mengurangi isi produk karena dinilai lebih “aman” dan tidak terlalu memicu penolakan konsumen.
Produk kebutuhan sehari-hari menjadi sasaran paling empuk shrinkflation. Mulai dari roti, sereal, makanan ringan, minuman kemasan, hingga produk perawatan diri. Karena dibeli secara rutin, pengurangan kecil pada berat atau volume sering tidak disadari. Padahal, dalam jangka panjang, pengeluaran bulanan bisa terasa makin besar meski harga satuan tidak berubah.
Dari sudut pandang bisnis, shrinkflation dilakukan untuk menjaga margin keuntungan. Saat permintaan konsumen sensitif terhadap kenaikan harga, mengurangi ukuran produk dianggap sebagai solusi agar penjualan tetap stabil. Biaya produksi bisa ditekan, sementara harga di rak tetap terlihat “aman” bagi pembeli.
Namun bagi konsumen, dampaknya cukup signifikan. Nilai uang yang dikeluarkan menurun tanpa terasa karena harga per satuan produk sebenarnya naik. Produk yang biasanya cukup untuk beberapa hari kini lebih cepat habis, sehingga memengaruhi perencanaan belanja rumah tangga.
Agar tidak mudah terjebak shrinkflation, konsumen perlu lebih cermat saat berbelanja. Membandingkan harga per satuan—per gram, per liter, atau per buah jauh lebih akurat daripada sekadar melihat harga di rak. Membeli kemasan besar, barang curah, atau produk segar juga bisa menjadi alternatif karena relatif lebih jarang terkena praktik ini.
Shrinkflation menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup tidak selalu hadir secara terang-terangan. Isi produk yang menyusut perlahan bisa berdampak besar jika tidak disadari. Dengan memahami ciri-cirinya, kamu bisa menjadi konsumen yang lebih kritis dan tetap berhemat di tengah kondisi ekonomi yang menantang. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



































