
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kepolisian Resor Bogor mengubah paradigma penanganan kemacetan di kawasan Puncak dengan mengubah peran joki penunjuk jalan, yang selama ini justru dianggap memperparah kemacetan, menjadi bagian dari solusi. Sebanyak 60 joki telah direkrut dan dilatih untuk menjadi sukarelawan pembantu lalu lintas (supeltas) dalam menghadapi lonjakan wisatawan pada libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026.
Kapolres Bogor, AKBP Wikha Ardilestanto menegaskan bahwa kehadiran para joki yang beroperasi di jalur Puncak selama ini menjadi salah satu faktor yang memperparah kemacetan, di samping keterbatasan kapasitas jalan dan tingginya volume kendaraan. Melalui program pemberdayaan ini, polisi berupaya mengubah potensi ancaman menjadi peluang positif.
“Kita sudah melakukan perekrutan para joki dan kita sudah memberikan pelatihan. Sekitar 60 orang sudah kita rekrut, sudah kita berikan pelatihan,” ujar Wikha, Sabtu (20/12/2025).
Program pelatihan yang diberikan kepada para calon supeltas mencakup tiga aspek utama. Pertama, teknik pengaturan lalu lintas dengan 12 gerakan standar yang digunakan petugas kepolisian. Kedua, penanganan pertama gawat darurat untuk memberikan pertolongan awal jika terjadi kecelakaan lalu lintas. Ketiga, pelatihan komitmen antikorupsi dan antipungutan liar (antipungli), yang menjadi persoalan krusial di kawasan wisata tersebut.
Para supeltas juga dilengkapi atribut khusus berupa rompi berwarna kuning dan topi biru sebagai pembeda dari joki liar yang tidak terdaftar. Dalam pelaksanaannya, para relawan ini akan disandingkan dengan personel kepolisian, termasuk personel bantuan kendali operasi dari Direktorat Samapta Bhayangkara Kepolisian Republik Indonesia.
Wikha menegaskan bahwa harapan dari program ini adalah para supeltas dapat membantu kelancaran pengaturan lalu lintas, bukan justru menciptakan kemacetan seperti yang selama ini terjadi.
“Harapannya nanti ke depan para supeltas akan membantu kelancaran pengaturan lalu lintas yang ada di wilayah Puncak, dan tidak malah sebaliknya seperti yang biasa terjadi, hadirnya joki malah membuat kemacetan,” jelasnya.
Langkah inovatif ini mendapat sambutan positif dari pelaku usaha perhotelan di kawasan Puncak. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bersama 32 hotel di kawasan tersebut, terutama hotel-hotel besar, menyatakan kesediaan memberikan dukungan finansial dan logistik kepada para supeltas.
“Mereka siap support terkait untuk pemberian insentif joki, dan termasuk pemberian makan untuk para joki yang kita rekrut sebagai relawan lalu lintas,” ungkap Wikha.
Dukungan pelaku usaha ini bukan tanpa alasan. Kemacetan yang kerap terjadi di kawasan Puncak berdampak langsung pada tingkat hunian hotel (occupancy rate).
“Apabila kawasan Puncak itu dikenal karena macet, otomatis itu akan berimbas pada okupansi hotel tersebut. Maka dari PHRI dan pihak-pihak hotel yang ada di kawasan Puncak juga sangat support terhadap apa yang dilakukan,” papar Wikha.
Meski memberdayakan para joki, Polres Bogor tetap akan menindak tegas joki liar yang masih beroperasi dan tidak mengikuti aturan. Para supeltas yang terbukti melanggar komitmen, terutama terkait praktik pungli, akan digantikan oleh relawan lain yang telah terdaftar dalam daftar tunggu.
Polres Bogor juga menyiapkan sekitar 200 personel khusus di jalur Puncak, diperkuat bantuan dari Brimob Markas Besar Polri dan 40 personel Samapta. Para supeltas ini akan membantu mengidentifikasi potensi joki liar yang masih beroperasi dan dapat memicu kemacetan, untuk kemudian ditertibkan oleh petugas.
Program ini merupakan bagian dari rekayasa lalu lintas yang lebih luas dalam Operasi Lilin Lodaya 2025, termasuk penerapan sistem ganjil genap dan sistem satu arah (one way) di titik-titik tertentu.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































