Didiagnosis Kanker Usus di Usia 24 Tahun, Engineer AS Ini Ungkap Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Kanker Usus
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Sewcream)

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Page Seifert, seorang engineer asal Denver, Colorado, tak pernah menyangka keluhan yang awalnya dianggap sepele justru menjadi awal dari diagnosis kanker usus stadium tiga. Di usia 24 tahun, Seifert divonis mengidap bowel cancer, penyakit yang selama ini kerap diasosiasikan dengan usia lanjut.

Kini, di usia 25 tahun, Seifert dinyatakan bebas kanker dan berada dalam kondisi remisi setelah menjalani rangkaian perawatan intensif. Ia menyelesaikan 12 putaran kemoterapi yang dilanjutkan dengan operasi besar, sebelum akhirnya dinyatakan pulih.

Dikutip dari Daily Mail UK, dokter menyebut kasus kanker usus pada kelompok usia di bawah 50 tahun mengalami peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini memicu seruan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih waspada terhadap gejala awal yang kerap diabaikan.

Advertisement
Baca Juga :  Nyamuk Ber-Wolbachia Terbukti Efektif, Studi di Singapura Catat Penurunan DBD Signifikan

Seifert mengungkapkan, kanker yang ia alami tidak muncul secara tiba-tiba. Ada sejumlah tanda yang muncul jauh sebelum diagnosis ditegakkan.

Darah dalam tinja menjadi gejala pertama yang ia alami pada Agustus 2024. Namun, Seifert mengira pendarahan tersebut hanya disebabkan oleh wasir. Baru pada Januari 2025, ia memutuskan berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi. Hasil kolonoskopi justru menunjukkan adanya tumor ganas di usus besar.

“Saat dokter melakukan kolonoskopi, begitu alat masuk, dia langsung melihat tumor dan tahu itu kanker,” ujar Seifert.

Selain itu, ia juga kerap merasakan sakit perut yang datang secara tidak menentu. Rasa tidak nyaman tersebut terkadang disertai mual dan kram. Menurut dokter, nyeri perut dapat terjadi ketika tumor menyebabkan penyumbatan sebagian di saluran usus.

Baca Juga :  Waspada! 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Merusak Kulit Wajah

Gejala lain yang tak kalah penting adalah kelelahan ekstrem. Seifert mengaku sering merasa sangat lelah tanpa alasan jelas. Awalnya ia mengira kelelahan tersebut disebabkan oleh pekerjaan atau kurang tidur. Namun, kondisi itu ternyata berkaitan dengan anemia akibat perdarahan internal yang terjadi secara perlahan.

Kini, setelah melalui masa sulit, Seifert berharap kisahnya bisa menjadi pengingat agar siapa pun tidak menyepelekan perubahan pada tubuh. Deteksi dini, menurutnya, dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan. (MG4)

Editor : Salma

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel