TIMETODAY.ID, JAKARTA — Militer Amerika Serikat kembali memperkuat kehadirannya di Timur Tengah. Kali ini, Washington membentuk satuan tugas baru yang secara khusus disiapkan untuk operasi berbasis drone. Satuan tersebut diberi nama Task Force Scorpion Strike (TFSS) dan diumumkan secara resmi oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Rabu (3/12/2025) waktu setempat.
Pembentukan TFSS dilakukan hanya sehari setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, meluncurkan proyek ambisius bertajuk “drone dominance” senilai US$ 1 miliar untuk dua tahun ke depan. Program ini menargetkan produksi ratusan ribu drone murah guna memperkuat dominasi udara AS di medan perang modern yang semakin dipenuhi teknologi tanpa awak.
Langkah agresif ini juga dilatarbelakangi oleh meningkatnya intensitas serangan terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Di era pemerintahan Joe Biden, ratusan serangan dilaporkan terjadi, sebagian besar dilakukan milisi dan kelompok bersenjata yang didukung Iran, dengan sasaran pasukan AS di Irak, Suriah, dan sejumlah wilayah strategis lainnya.
Sejumlah serangan bahkan memakan korban jiwa dari pihak militer AS. Situasi itulah yang mempertegas urgensi kebutuhan sistem pertahanan dan serangan berbasis drone yang lebih cepat, adaptif, dan efisien.
CENTCOM menegaskan TFSS dirancang sebagai unit yang mampu mempercepat pemanfaatan teknologi drone mutakhir di medan tempur. Satuan ini akan membekali pasukan AS dengan sistem nirawak terbaru untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.
“Memperlengkapi prajurit terampil kita dengan kemampuan drone mutakhir lebih cepat menunjukkan inovasi dan kekuatan militer AS, yang akan mencegah pelaku kejahatan,” ujar Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, dalam pernyataannya.
Sebagai bagian dari tahap awal peluncuran TFSS, AS telah mengerahkan sistem serangan tempur nirawak berbiaya rendah yang dikenal sebagai drone LUCAS.
Drone ini dirancang mampu beroperasi secara otonom dalam jarak jauh serta memiliki metode peluncuran yang fleksibel, mulai dari ketapel, lepas landas dengan bantuan roket, hingga sistem darat dari kendaraan bergerak.
Penggunaan drone murah dalam jumlah masif ini menandai perubahan strategi militer AS yang semakin mengandalkan teknologi tanpa awak sebagai tulang punggung kekuatan tempur modern.
Di tengah dinamika konflik yang terus bergolak di Timur Tengah, kehadiran satgas khusus drone ini sekaligus menjadi sinyal bahwa perang masa depan akan semakin ditentukan oleh siapa yang menguasai langit—tanpa pilot di kokpit.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































