Trump Hidupkan Kembali Program Uji Coba Nuklir AS, Rusia Beri Respons

AS
Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Kylie Cooper Purchase Licensing Rights)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Keputusan mengejutkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memerintahkan kembali dilakukannya uji coba senjata nuklir setelah 33 tahun moratorium, langsung mengguncang tatanan geopolitik global.

Di tengah kekhawatiran dunia akan potensi dimulainya perlombaan senjata baru, Rusia memilih bersikap hati-hati.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia tidak melakukan uji coba nuklir dan akan tetap mematuhi moratorium yang sudah berlaku setidaknya sampai Amerika benar-benar melanggar kesepakatan itu lebih dulu.

Advertisement

“Saat ini sedang berlaku moratorium (uji coba nuklir),” tegas Peskov, dikutip dari Reuters dan kantor berita TASS, Jumat (31/10/2025).

“Dalam pernyataannya, Presiden Trump menyebutkan bahwa negara-negara lainnya sedang terlibat dalam uji coba senjata nuklir. Hingga saat ini, kami tidak mengetahui negara mana pun yang sedang melakukan uji coba tersebut,” tambahnya.

Trump sebelumnya mengumumkan keputusan itu setelah Rusia melakukan uji coba rudal Burevestnik dan drone Poseidon, dua sistem senjata berkemampuan nuklir yang baru saja dipamerkan oleh Presiden Vladimir Putin.

Baca Juga :  ASN hingga Polisi di Kabupaten Bogor Patungan Bantu Korban Bencana Aceh-Sumatra

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS akan memulai kembali uji coba senjata nuklir “karena negara-negara lain juga melakukannya.”

“Proses itu akan segera dimulai,” ujar Trump dalam konferensi pers yang langsung memicu respons dari berbagai negara, termasuk sekutunya sendiri di Eropa.

Namun Kremlin menolak tuduhan bahwa uji coba rudal Burevestnik dan drone Poseidon itu termasuk dalam kategori uji coba senjata nuklir.

“Jika (Trump) dengan cara tertentu menyebut uji coba Burevestnik sebagai uji coba nuklir yang dilakukan negara lain, maka itu sama sekali tidak akurat. Semua negara terus mengembangkan sistem pertahanan mereka, tetapi ini bukan merupakan uji coba nuklir,” jelas Peskov.

Rusia, lanjutnya, juga belum menerima pemberitahuan resmi dari AS soal perubahan kebijakan nuklir tersebut. Ketika ditanya apakah Kremlin menganggap pernyataan Trump bisa memicu perlombaan senjata baru, Peskov hanya menjawab singkat:
“Tidak juga.”

Baca Juga :  Tarif, Teguran, dan Trump: Ancaman 50% dari Gedung Putih Mengguncang Hubungan Dagang AS-China

Putin sendiri, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, menegaskan bahwa Rusia akan menanggapi dengan setara jika negara lain melanggar moratorium uji coba nuklir.

“Saya ingin mengingatkan kembali pernyataan Presiden Putin, yang telah diulang berkali-kali: Jika seseorang melanggar moratorium, Rusia akan bertindak sesuai dengan itu,” ujar Peskov.

Sejak berakhirnya era Soviet, Rusia memang belum pernah melakukan uji coba nuklir. Uji coba terakhir dilakukan Uni Soviet pada tahun 1990, sementara AS terakhir kali pada 1992, dan China pada 1996.

Dengan langkah Trump yang membuka kembali pintu uji coba nuklir, banyak pengamat khawatir dunia sedang memasuki babak baru dari politik senjata besar-besaran sebuah bayangan lama dari Perang Dingin yang tampaknya mulai bangkit kembali.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com, Reuters.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel