TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, sebagian besar anak seusianya mungkin masih asyik mengeja huruf, berhitung dasar, atau bermain layangan di halaman sekolah. Tapi tidak bagi Theodore.
Bocah kelas 1 SD asal Singapura ini justru sudah menjadi mahasiswa di jurusan Kimia, Nanyang Technological University (NTU).
Sejak Agustus tahun ini, Theodore rutin hadir di kampus bergengsi tersebut sekitar tiga kali dalam seminggu. Ia datang dengan tablet, buku catatan, dan botol air di tangan — layaknya mahasiswa sungguhan.
Dalam ruang kuliah yang diisi mahasiswa jauh lebih tua, ia duduk serius memperhatikan penjelasan dosen tentang konsep-konsep kimia tingkat lanjut.
Bukan main-main, Theodore bahkan sudah mencatat prestasi luar biasa. Nilai ujiannya di NTU menunjukkan huruf A — bukti nyata bahwa dirinya bukan sekadar “ikut-ikutan” kuliah.
“Awal tahun ini, ia menjadi orang termuda di Singapura yang meraih nilai A untuk ujian Kimia dalam International General Certificate of Secondary Education (IGCSE), ujian setara O Levels, yang ia ikuti saat berusia enam tahun 10 bulan,” demikian laporan media setempat.
Rasa ingin tahunya yang besar membuat Theodore memutuskan untuk benar-benar memahami ilmu kimia secara mendalam. Ia bahkan tertarik pada konsep yang rumit seperti teori orbital molekul, metode yang menggunakan mekanika kuantum untuk menjelaskan perilaku elektron.
Fenomena anak jenius ini segera menarik perhatian publik, tak hanya di Singapura, tapi juga di Indonesia. Netizen +62 pun ramai-ramai menanggapi dengan gaya khasnya — antara kagum, geli, dan reflektif.
Akun @fa****menulis, “Jir umur segitu gw lagi belajar nerbangin layangan????”
Sementara @ser****tak kuasa menyembunyikan kekagumannya, “OMG keren banget ????????”
Ada pula komentar lucu dari @bbi****, “Mamahnya hemat biaya pendidikan, langsung kuliah????”
Disusul @ma****yang berkelakar, “Wah 7 taun belajar NMR????”
Namun tak semua komentar bernada ringan. Beberapa warganet menyoroti sistem pendidikan di Indonesia yang sering kali kaku terhadap usia.
Akun rezyfr bertanya sinis, “Kalo di sini ketolak masuk SD ga itu?”
Sedangkan fajarsw11 menulis panjang, “Di Konoha ada yang ga bisa masuk sekolah impiannya karena terkendala umurnya terlalu muda, banyak juga kasus TK sampe 3th gara-gara nunggu umurnya cukup. Miris bgt kan????”
Komentar lain juga datang dari septianandra2 yang menulis, “Syukurlah berada di negara yang tepat, ga kebayang kl di sini birokrasinya gimana. ????”
Theodore kini mungkin menjadi simbol tentang bagaimana bakat dan rasa ingin tahu tidak selalu sejalan dengan angka usia. Sementara banyak anak seusianya baru belajar menulis dengan lancar, ia sudah mencoba memahami mekanika kuantum dan mendapatkan nilai A.
Bagi sebagian orang, kisah Theodore terasa seperti dongeng sains modern. Tapi di baliknya, ada pesan sederhana: ketika sistem pendidikan memberi ruang, potensi anak-anak bisa tumbuh jauh melampaui ekspektasi usia mereka.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































