TIMETODAY.ID, GAZA — Suasana di Gaza hari ini berbeda dari biasanya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, dentuman bom berhenti bergema. Di tengah reruntuhan dan luka panjang konflik, muncul secercah harapan baru: perang dinyatakan berakhir.
Pejabat tinggi Hamas, Khalil al-Hayya, pada Jumat (10/10/2025), mengumumkan bahwa pertempuran di Gaza resmi dihentikan. Keputusan ini, menurutnya, diambil setelah adanya jaminan dari Amerika Serikat dan sejumlah mediator internasional bahwa permusuhan tidak akan dilanjutkan.
“Semua pihak mengonfirmasi bahwa perang telah sepenuhnya berakhir,” ujar al-Hayya dalam pernyataannya, seperti dikutip dari RT News.
Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam salah satu konflik paling berdarah di abad ini. Rencana perdamaian yang diusung Presiden AS Donald Trump disebut-sebut akan menjadi dasar gencatan senjata permanen antara Israel dan Hamas langkah yang oleh banyak pihak dinilai bersejarah, namun juga sarat tantangan.
Kesepakatan Sharm el-Sheikh: Langkah Nyata ke Arah Damai
Dalam pertemuan yang digelar di Sharm el-Sheikh, Mesir, Hamas dan Israel dikabarkan telah mencapai kesepakatan penting. Poin-poin utama dalam perjanjian tersebut meliputi pembukaan perbatasan Rafah, penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza, serta pertukaran tahanan antara kedua pihak.
“Hamas akan bekerja sama dengan seluruh kekuatan nasional dan kelompok Islam di Palestina untuk melaksanakan langkah-langkah lanjutan yang disepakati dalam perjanjian ini,” ujar al-Hayya.
Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Hamas akan membebaskan seluruh sandera yang masih hidup dalam waktu 72 jam, sedangkan Israel akan membebaskan sekitar 1.950 tahanan Palestina, termasuk 250 terpidana seumur hidup, serta semua perempuan dan anak di bawah umur yang ditahan sejak 2023.
Menurut laporan media Israel, pasukan Israel juga akan ditarik mundur ke garis yang telah ditentukan dalam 24 jam setelah kesepakatan diratifikasi, meski negara itu masih akan menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza.
Respon Israel: Antara Penolakan dan Harapan
Meski kesepakatan telah diumumkan, kabinet Israel masih melakukan pemungutan suara untuk meratifikasi perjanjian tersebut. Di dalam negeri, perbedaan pendapat tajam muncul di antara para pejabat.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka menolak rencana perdamaian Trump. Ia menyatakan akan meninggalkan pemerintahan jika Hamas tetap diizinkan mempertahankan kendali atas Gaza.
“Pertukaran tahanan dengan Hamas adalah harga yang tak tertahankan,” ujarnya tegas.
Namun, di sisi lain, beberapa tokoh politik Israel menilai gencatan senjata ini bisa menjadi jalan keluar dari krisis kemanusiaan dan beban politik yang semakin berat bagi pemerintahan Netanyahu.
Dua Tahun Luka, Satu Harapan Baru
Perang antara Israel dan Hamas dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika militan Hamas melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 warga Israel.
Serangan balasan Israel kemudian berlangsung masif. Data dari otoritas Gaza menyebutkan bahwa lebih dari 67.000 warga Palestina tewas, dan ribuan lainnya terluka.
Infrastruktur hancur, rumah sakit lumpuh, serta jutaan warga kehilangan tempat tinggal — menjadikan Gaza salah satu wilayah dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Kini, dengan diumumkannya berakhirnya perang, dunia menahan napas. Apakah ini benar-benar akhir dari lingkaran kekerasan panjang yang telah menelan begitu banyak nyawa — atau hanya jeda sementara sebelum badai berikutnya?
Untuk warga Gaza, setidaknya malam ini, langit tampak sedikit lebih tenang.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































