TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di era gaya hidup sehat, orang semakin sadar pentingnya bergerak. Dari lapangan olahraga hingga taman kota, banyak yang berlomba-lomba membakar kalori dan menguatkan tubuh.
Namun, tidak semua orang nyaman dengan olahraga intens. Ada yang cepat ngos-ngosan, tak kuat melakukan gerakan berat, atau baru memulai rutinitas sehat.
Inilah saat zone zero hadir sebagai solusi. Konsep ini tengah ramai dibicarakan di media sosial, tapi apa sebenarnya olahraga zone zero?
Menurut instruktur olahraga Kate Rowe-Ham, yang dikutip dari Women’s Health Magazine, zone zero adalah bentuk gerakan lembut berintensitas rendah, dengan detak jantung dijaga di bawah 50 persen dari maksimal.
“Olahraga zone zero mungkin terdengar asing, tapi sebenarnya ini hanya tentang jenis gerakan lembut dan berintensitas rendah,” ujar Rowe-Ham.
Beberapa pakar menyebut zone zero sebagai “istirahat aktif,” karena fokusnya bukan membakar banyak kalori, tapi membantu pemulihan tubuh.
“Jika zona satu adalah jalan santai, maka zone zero adalah langkah di bawahnya: berjalan santai, berdiri, dan peregangan ringan yang terasa hampir tanpa usaha,” jelasnya.
Manfaat Zone Zero
Meski ringan, zone zero tetap membawa manfaat. Gerakan lembut ini bisa meningkatkan sirkulasi darah dan membantu mengatur gula darah, terutama bila dilakukan setelah makan.
“Olahraga zone zero adalah bentuk gerakan yang mudah diakses dan dapat dilakukan oleh kebanyakan orang,” kata Rowe-Ham. Tidak hanya itu, aktivitas ringan ini juga berkontribusi pada suasana hati yang lebih baik dan mampu mengurangi stres.
Penelitian menunjukkan, orang yang rutin memasukkan gerakan ringan ke dalam aktivitas sehari-hari cenderung hidup lebih lama dan memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis.
Sebuah studi dari University of Sydney menemukan, berjalan kaki 7.000 langkah sehari dapat menurunkan risiko kematian dini hingga 47 persen, bahkan 2.000 langkah sehari pun memberi dampak positif.
Contoh Gerakan Zone Zero
Olahraga zone zero meliputi semua aktivitas yang menjaga detak jantung tetap rendah, misalnya:
- Jalan kaki santai
- Yoga
- Bersepeda santai
- Peregangan ringan
- Berkebun atau pekerjaan rumah ringan
Meski bermanfaat, Rowe-Ham menekankan bahwa zone zero tidak bisa menggantikan olahraga utama. “Untuk benar-benar mempersiapkan tubuh demi masa depan, Anda tetap membutuhkan kombinasi gerakan kardio, latihan kekuatan, dan sesekali latihan intensitas tinggi,” ujarnya.
WHO merekomendasikan orang dewasa setidaknya melakukan olahraga intensitas sedang selama 150 menit setiap minggu. Zone zero bisa menjadi titik awal bagi pemula, atau cara tetap aktif bagi mereka yang ingin bergerak ringan tanpa stres.
Dengan konsep ini, olahraga tidak lagi menakutkan bagi pemula atau mereka yang mencari aktivitas santai—cukup gerakan ringan, nyaman, dan tetap bermanfaat bagi tubuh.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































