Sejarah Pidato Panjang di PBB, Ada Nama Presiden RI Soekarno

PBB
pidato di soekarno pbb (Foto: UNESCO)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Saat Presiden Prabowo Subianto berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Senin (22/9/2025) waktu setempat, sebuah kejadian menarik terjadi. Mikrofon mendadak mati.

Rupanya, bukan karena gangguan teknis, melainkan aturan. “Setiap negara mendapat kesempatan lima menit. Jika lebih dari itu, mikrofon otomatis dimatikan,” jelas Direktur Informasi dan Media Kemlu RI, Hartyo Harkomoyo.

Aturan ini bukan hal baru. Alokasi waktu untuk berpidato di Majelis Umum PBB sudah diatur sejak 1972 dalam Peraturan 72 Tata Tertib Majelis Umum (A/520/Rev.20). Bahkan dalam sesi debat, para kepala negara biasanya mendapat porsi maksimal 15 menit.

Advertisement

Meski demikian, praktik di lapangan tak selalu seketat aturan. Presiden AS Donald Trump, misalnya, pernah berpidato hampir satu jam di forum yang sama.

Baca Juga :  Qatar Waspada Perang, Dua Peringatan Darurat Meluncur Serentak

Fenomena ini mengingatkan pada sejarah panjang podium PBB yang kerap jadi ajang unjuk wacana politik dunia. Beberapa pemimpin bahkan tercatat dengan pidato superpanjang.

  • Fidel Castro (Kuba) – 269 menit (4,5 jam)
    Pada 26 September 1960, Castro berbicara selama 4,5 jam, mengutuk Amerika Serikat dan menyinggung kebijakan embargo yang menyengsarakan rakyat Kuba. Hingga kini, ia masih memegang rekor pidato terlama di Majelis Umum PBB.
  • Sekou Touré (Guinea) – 144 menit (2,5 jam)
    Presiden pertama Guinea itu berpidato pada 10 Oktober 1960, menekankan perjuangan kemerdekaan negaranya dari Prancis.
  • Nikita Khrushchev (Uni Soviet) – 140 menit
    Pemimpin Uni Soviet ini berbicara panjang pada 23 September 1960, hanya terpaut empat menit dari Touré.
  • Soekarno (Indonesia) – 121 menit (2 jam)
    Pada 30 September 1960, Bung Karno menyampaikan pidato berjudul To Build a World Anew (Membangun Dunia Baru Kembali). Dengan peci kebanggaannya, ia menyerukan tatanan dunia baru yang lebih adil di tengah rivalitas Blok Timur dan Barat. Pada 2023, pidato ini diakui UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World.
  • Muammar Khadafi (Libya) – 96 menit (1,5 jam)
    Pada 23 September 2009, Khadafi untuk pertama dan terakhir kali berbicara di PBB. Ia mengecam hak veto lima anggota tetap Dewan Keamanan, menyebutnya sebagai “dewan teror”.
Baca Juga :  Inisiatif Perdamaian Prabowo Subianto untuk Konflik Iran dan Israel Dapat Dukungan Internasional

Dari kisah-kisah itu, podium PBB terbukti bukan sekadar tempat pidato formal, melainkan juga panggung sejarah. Mikrofon boleh saja dimatikan, tetapi gema pesan politik para pemimpin dunia tetap tercatat dalam ingatan publik internasional.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel