TIMETODAY.ID, BOGOTA — Langit Antioquia, Kolombia, yang biasanya dipenuhi suara deru helikopter patroli, mendadak berubah menjadi saksi tragedi berdarah pada Kamis (21/8/2025).
Sebuah helikopter Kepolisian Nasional yang tengah membantu operasi pemberantasan tanaman ilegal, diserang kelompok tak dikenal menggunakan drone. Pesawat itu terhempas ke bukit, menewaskan delapan polisi di dalamnya.
Tak lama berselang, di hari yang sama, sebuah bom mobil meledak di dekat Pangkalan Udara Marco Fidel Suarez, Cali. Ledakan besar itu menambah duka dengan menewaskan enam orang dan melukai 50 lainnya.
Dua serangan dalam sehari ini membuat Kolombia kembali dibayangi bayangan lama: teror kelompok bersenjata.
“Serangan itu juga menyebabkan dua petugas kami terluka,” kata Gubernur Antioquia, Andres Julian Rendon, yang bahkan membagikan video detik-detik helikopter menabrak bukit.
Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Namun, dugaan segera mengarah ke kelompok bersenjata yang masih aktif di sejumlah wilayah.
Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Arnulfo Sanchez menuturkan, “Serangan itu tampaknya dilakukan oleh Front ke-36 Estado Mayor Central (EMC), pembangkang dari FARC.”
Presiden Kolombia Gustavo Petro turut mengonfirmasi jumlah korban. “Delapan polisi tewas, enam orang lainnya terluka,” ujarnya.
Ia sempat menuding sindikat kriminal Gulf Clan, terutama karena insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah penyitaan 1,5 ton kokain di Uraba, Antioquia. Namun, belakangan Petro meralat tudingannya dan lebih condong menyalahkan Front ke-36 EMC.
Direktur Kepolisian Nasional Kolombia Carlos Fernando Triana Beltran menyebut peristiwa itu sebagai serangan teroris. Pernyataan serupa datang dari Angkatan Udara Kolombia yang menegaskan bahwa ledakan bom mobil di Cali juga merupakan aksi terorisme.
Di tengah kepanikan publik, Wali Kota Cali, Alejandro Eder, mencoba memberi harapan. Ia mengumumkan sayembara sebesar 400 juta peso Kolombia bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi terkait pelaku.
Dua tragedi berdarah dalam satu hari ini seolah membuka kembali luka lama Kolombia—negeri yang selama puluhan tahun berjuang keluar dari bayang-bayang kekerasan kelompok bersenjata. Namun kali ini, publik menanti jawaban: siapa sebenarnya dalang di balik serangan mematikan itu?
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































