Netanyahu Gaungkan Visi “Israel Raya”, Klaim Misi Bersejarah dan Spiritual

Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Dok. Instagram/@b.netanyahu)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di balik sorotan kamera dan pertanyaan yang menguji batas diplomasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara tentang sesuatu yang ia sebut sebagai “misi bersejarah dan spiritual”. Sebuah visi yang telah lama beredar di kalangan ultra-nasionalis: “Israel Raya”.

Konsep ini bukan sekadar peta politik, melainkan sebuah rencana ekspansi yang mencakup wilayah pendudukan Palestina, serta sebagian Yordania, Lebanon, Suriah, bahkan Mesir.

Kepada saluran i24, seperti dilaporkan The Times of Israel (12/8/2025), pewawancara Sharon Gal menunjukkan peta yang digambarkan sebagai “Tanah yang Dijanjikan” dan menanyakan apakah Netanyahu merasa terhubung dengannya.

Advertisement

“Saya berada dalam misi lintas generasi. Jadi, jika Anda bertanya apakah saya merasa ini adalah misi bersejarah dan spiritual, jawabannya adalah ya,” tegas Netanyahu, dikutip Middle East Eye.

Meskipun peta itu tak ditampilkan ke publik, istilah Israel Raya dikenal luas sebagai visi ekspansionis pasca-Perang Enam Hari 1967, ketika Israel menduduki Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Baca Juga :  Disdik Bogor Kunjungi Darul Quran Mulia, Pastikan Data dan Beri Dukungan

Sejak saat itu, ide ini menjadi bagian dari narasi politik yang dihidupi sebagian elite Israel.

Bukan hanya Netanyahu. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, dalam berbagai kesempatan, turut menggaungkan ide serupa.

Dalam sebuah film dokumenter tahun lalu, ia bahkan menyebut Israel pada akhirnya akan mencakup Damaskus, seluruh Palestina, dan sebagian wilayah Yordania, Lebanon, Mesir, Suriah, Irak, hingga Arab Saudi.

“Telah tertulis bahwa masa depan Yerusalem adalah berkembang hingga Damaskus,” ujarnya.

Baca Juga :  Newcastle Gagal Menang di Menit Akhir, Harvey Barnes: Rasanya Sulit Diterima

Namun, bagi Hamas, pernyataan ini adalah alarm bahaya. Kelompok itu menyebut visi Netanyahu sebagai “agenda kriminal dan ekstremis” yang mengancam tidak hanya Palestina, tapi juga negara-negara di kawasan.

Dalam pernyataannya, Hamas menyerukan negara-negara Arab untuk mengambil langkah “tegas dan jelas” memutus hubungan, menghentikan normalisasi, mendukung perlawanan Palestina, dan bersatu melawan pendudukan.

Kecaman juga mengalir dari komunitas internasional yang melihat ambisi ini berpotensi memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Di saat Netanyahu dikabarkan tengah menyiapkan operasi militer baru ke Jalur Gaza, dunia kembali diingatkan bahwa peta politik di kawasan ini bukan hanya soal garis di atas kertas melainkan soal nyawa, sejarah, dan masa depan jutaan orang.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel