Lewat Taddabur Alam, Alumni SMP PGRI Margajaya Bogor Jalin Silaturahmi Usai 3 Dekade Terpisah

SMP PGRI Margajaya
Lewat Taddabur Alam, Alumni SMP Margajaya Bogor Jalin Silaturahmi Usai 3 Dekade Terpisah. Foto : Ist.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Angin laut bertiup lembut, membelai pasir putih Pantai Carita, Pandeglang, Banten yang menghangat diterpa mentari pagi, Minggu (6/7/2025). Di bawah langit yang biru tanpa cela, tawa dan air mata berbaur di antara sekelompok pria dan wanita paruh baya yang berkumpul dalam kehangatan. Mereka bukan sekadar pelancong, melainkan alumni SMP PGRI Margajaya Bogor angkatan 1994, yang akhirnya bertemu kembali setelah 31 tahun berpisah jarak dan waktu.

Pertemuan yang telah lama dirindukan itu terwujud melalui kegiatan tadabur alam, sebuah momen yang dirancang untuk mempererat tali silaturahmi dan menjadi ruang refleksi atas perjalanan hidup. Suasana penuh kehangatan pun tercipta, seolah masa-masa mengenakan seragam putih biru belum benar-benar berlalu.

“Kami pernah bersama selama tiga tahun, lalu terpisah selama lebih dari tiga dekade. Rasanya seperti pulang ke rumah yang lama tak dikunjungi,” ungkap Maelani, Ketua Panitia acara.

Maelani berharap reuni ini bukan sekadar ajang mengenang masa lalu. Meskipun komunikasi tetap terjalin lewat grup WhatsApp, ia ingin silaturahmi yang terbangun tak berhenti di layar ponsel..

“Semoga ini jadi langkah awal untuk terus merawat kebersamaan. Kami ingin pertemuan nyata seperti ini tetap ada, dengan pelukan, tatap muka, dan tawa yang nyata,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar bersenang-senang, reuni ini menjadi ruang berbagi dan perenungan. Dalam sesi tadabur alam, para alumni saling membuka cerita, tentang keluarga, perjuangan hidup, hingga kehilangan yang mereka alami selama tiga dekade terakhir.

Tak ketinggalan, berbagai sajian khas kampung halaman turut memeriahkan acara. Namun yang paling menyita perhatian adalah deretan permainan yang mengundang gelak tawa. Mulai dari kata berantai, estafet sarung, hingga tantangan kocak, para bapak mengenakan kerudung.

“Ada yang protes karena panas dan bahkan sampai tertusuk jarum pentul di jarinya,” kata Melan sapaan akrabnya.

Salah satu permainan yang paling menghibur adalah joget dengan kerudung yang diikuti para peserta pria. Tawa riuh pecah, bukan karena olok-olok, melainkan kehangatan dan kelucuan yang hanya bisa dipahami mereka yang pernah melewati masa remaja bersama.

“Permainannya sederhana, tapi justru itu yang bikin semua cair. Di sini nggak ada yang jaim. Semua tampil apa adanya,” tutur Melan.

Menjelang senja, satu per satu peserta mulai meninggalkan pantai. Namun jejak kebersamaan tetap tertinggal di pasir, bersama gema tawa dan kenangan yang kembali hidup untuk sesaat.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Resep Jagung Bose Khas NTT, Makanan Tradisional dari Jagung

Follow dan Baca Artikel lainnya di  atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel