Perang Udara Israel-Iran: Saat Rakyat Terjebak di Tengah Amarah Dua Negara

Perang udara
Sebuah gedung di kampus Institut Sains Weizmann hancur setelah serangan rudal Iran pada hari Minggu, di Rehovot, Israel, 19 Juni 2025. (REUTERS/Violeta Santos Moura)
TIMETODAY.ID — Langit Timur Tengah masih merah membara. Perang udara antara Israel dan Iran memasuki pekan kedua pada Jumat ini (20/6/2025), menyisakan duka, ketegangan, dan kekhawatiran global. Di balik dentuman rudal dan gemuruh drone, para diplomat Eropa kini berjibaku mencoba menarik Teheran kembali ke meja perundingan—sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut keputusan keterlibatan AS akan diputus dalam dua pekan mendatang.
Kisah bermula sejak Jumat pekan lalu. Israel memulai serangan udara ke Iran dengan dalih menghentikan upaya musuh bebuyutannya itu mengembangkan senjata nuklir. Iran membalas, meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel sambil menegaskan, “Program nuklir kami damai.”
Hingga kini, korban terus berjatuhan. Human Rights Activists News Agency mencatat, sedikitnya 639 warga Iran tewas, termasuk kalangan elit militer dan ilmuwan nuklir. Sementara serangan balasan Iran diklaim Israel telah menewaskan dua lusin warga sipil. Reuters belum dapat memverifikasi jumlah korban dari kedua pihak secara independen.

Target yang lebih besar?

Israel mengincar situs nuklir dan kemampuan misil Iran, namun menurut pejabat Barat dan kawasan, ada tujuan yang lebih besar: menggoyang pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.
“Apakah kami menargetkan kejatuhan rezim? Itu mungkin menjadi hasilnya, tetapi keputusan ada di tangan rakyat Iran untuk bangkit demi kebebasan mereka,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Kamis lalu,  mengutip dari Reuters .
Di pihak seberang, Iran menyatakan mereka menargetkan instalasi militer Israel. Namun, serangan juga menghantam rumah sakit dan kawasan sipil, sehingga memunculkan tudingan Israel bahwa Iran sengaja menyasar warga sipil lewat amunisi cluster yang menyebar bom kecil di area luas. Hingga kini, Misi Iran untuk PBB belum memberi komentar.

Dunia mencoba menenangkan

Ketika kedua negara keras kepala tak mau mundur, upaya damai digenjot. Para menteri luar negeri Inggris, Prancis, Jerman, dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Jenewa.
“Saatnya menghentikan adegan-adegan mengerikan di Timur Tengah dan mencegah eskalasi regional yang tidak menguntungkan siapa pun,” tegas Menlu Inggris David Lammy sebelum pertemuan.
Rusia dan China pun angkat suara. Presiden Vladimir Putin dan Xi Jinping sepakat bahwa de-eskalasi sangat dibutuhkan. “Kecaman pada Israel menguat, seruan damai menggema,” bunyi pernyataan Kremlin, Kamis.
Sementara itu, posisi Amerika Serikat masih jadi teka-teki. Trump dikabarkan tengah menimbang opsi menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Iran dengan bom penghancur bunker. Namun, Gedung Putih menyebut keputusan akan keluar “dalam dua minggu”—jangka waktu yang Trump sering sebut namun tak selalu pasti.

Rakyat Iran di persimpangan

Di dalam negeri, Iran menghadapi salah satu ancaman eksternal terbesar sejak Revolusi 1979. Namun, panggilan untuk perlawanan rakyat nyaris sunyi.
“Bagaimana mungkin orang turun ke jalan? Dalam situasi yang begitu mengerikan, orang-orang hanya fokus menyelamatkan diri mereka, keluarga mereka, rekan sebangsa mereka, bahkan hewan peliharaan mereka,” ungkap Atena Daemi, aktivis HAM yang sempat dipenjara enam tahun sebelum akhirnya meninggalkan Iran.
Sementara rudal dan diplomasi saling berkejaran, dunia menanti: akankah Timur Tengah menuju perdamaian, atau justru perang yang lebih luas?

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Trump Copot Pam Bondi Usai Kritik Penanganan Berkas Epstein

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel