TIMETODAY.ID — Di sebuah sudut Kabupaten Pandeglang, tepatnya di Kecamatan Angsana, pagi itu berbeda dari biasanya. Bukan suara riuh anak-anak yang membangunkan warga, melainkan dentuman atap yang roboh pada dini hari, memecah keheningan sekitar pukul 02.00 WIB.
Ruang kelas 2 dan perpustakaan SDN Cikayas 3 runtuh bersamaan, meninggalkan puing dan debu, juga kekhawatiran yang telah lama menggantung.
“(Ambruknya) sudah lapuk, bangunan belum sempat rehab total dari tahun 2008,” ungkap Kepala SDN 3 Cikayas, Dewi Setiawati dikutip dari detik.com, Senin (2/6/2025).
Bukan hanya waktu yang membuat bangunan ini rapuh. Cuaca ekstrem yang menerjang dini hari itu menjadi pemicu tambahan. “Dini hari tadi ada angin kencang. Pas ambruk juga kedengaran oleh warga,” katanya, mengenang suara keras yang membangunkan banyak orang di sekitarnya.
Bila menengok ke dalam lingkungan sekolah, tampak bahwa kondisi bangunan yang lapuk bukanlah hal baru. “Hampir semua tidak layak,” ucap Dewi lirih, seolah mewakili harapan yang lama tersimpan.
Namun, di tengah keterbatasan, proses belajar harus terus berjalan. Sekolah ini tak menyerah begitu saja. Satu ruang kelas kini digunakan bergantian oleh dua rombongan belajar. “Satu ruang digilir, kelas 1 pagi, kelas 2 masuk siang,” jelas Dewi tentang strategi darurat agar siswa tetap bisa belajar.
Meski kondisi fisik sekolah melemah, semangat para guru dan siswa tak ikut runtuh. Namun harapan tetap disematkan pada perhatian pemerintah.
“Mudah-mudahan segera ada penanganan,” pungkas Dewi, mengirim sinyal harap dari sekolah yang masih berdiri walau pincang.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































