TIMETODAY.ID — Empat tahun sudah Simone Inzaghi memimpin Inter Milan. Dalam rentang waktu itu, bukan hanya strategi dan taktik yang ia tanamkan, tetapi juga semangat dan rasa percaya diri yang terus tumbuh di tubuh skuad Nerazzurri. Kini, mereka kembali di titik yang sama—final Liga Champions, sebuah mimpi yang sempat retak dua musim lalu.
Akhir pekan ini, Inter akan menghadapi Paris Saint-Germain di Allianz Arena, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Sebuah laga yang bukan hanya soal taktik, tapi juga pembuktian. Luka lama belum benar-benar sembuh sejak kekalahan tipis dari Manchester City di final musim 2022/2023. Namun, dari luka itu pula, Inter justru menemukan kedewasaan sebagai tim.
“Para pemain ini dalam empat tahun ini banyak melakukan banyak: menang banyak dan terkadang kalah – itu terjadi. Tapi kami semua memberikan segalanya, semuanya,” ujar Inzaghi dalam wawancara dengan situs UEFA.
Teguh dalam Kesetiaan dan Konsistensi
Tak banyak yang berubah dari skuad Inter sejak final dua tahun lalu. Nama-nama seperti Lautaro Martinez, Barella, dan Bastoni masih menjadi tulang punggung tim. Konsistensi inilah yang membuat Inter terlihat lebih solid, lebih siap. Bagi Inzaghi, kebersamaan yang terjalin dari pahit dan manis pertandingan menjadi kekuatan sejati timnya.
“Kami bangga menjadi Inter. Saya bermimpi bermain final Liga Champions; saya tidak melakukannya sebagai pemain, tetapi berkat pasukan pemain ini, ini adalah yang kedua dalam tiga tahun sebagai pelatih,” katanya.
Sebagai pemain, Inzaghi memang tak pernah merasakan atmosfer megah final Liga Champions. Kariernya banyak dihabiskan di Lazio—klub papan atas yang kala itu kerap tersisih sebelum mendekati puncak. Kini, sebagai pelatih, ia punya kesempatan kedua untuk mengukir sejarah yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
Momentum dan Misi Penebusan
Atmosfer di ruang ganti Inter menjelang laga final kali ini terasa berbeda. Ada ketenangan sekaligus tekad kuat untuk tidak mengulangi kegagalan masa lalu. Pengalaman menjadi pelajaran, dan kekompakan menjadi modal utama menghadapi PSG yang datang dengan status bintang dan kekuatan finansial.
Bagi Inter dan Inzaghi, ini bukan sekadar pertandingan. Ini adalah kesempatan untuk menuntaskan janji yang sempat tertunda. Sebuah janji kepada diri sendiri, kepada para tifosi, dan kepada sejarah klub—bahwa Inter Milan bisa kembali merajai Eropa.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































