Ketika Kura-Kura Menari dan Dunia Mendengarkan: Refleksi Hari Kura-Kura Sedunia 2025

kura kura
ilustrasi kura-kura /tortoise (istock)

TIMETODAY.ID — Di sebuah sudut hutan konservasi di Uttar Pradesh, India, seekor kura-kura air tawar perlahan-lahan menyusuri aliran sungai yang tenang. Ia tidak tahu, bahwa jauh dari habitat alaminya, manusia dari berbagai belahan dunia hari ini tengah merayakan keberadaannya. Hari ini, 23 Mei, adalah Hari Kura-Kura Sedunia.

Dengan tema yang unik dan menyenangkan, “Dancing Turtles Rock!”, Hari Kura-Kura Sedunia 2025 menjadi lebih dari sekadar kampanye penyelamatan spesies—ia menjadi panggilan global untuk peduli, memahami, dan ikut bergerak menjaga makhluk mungil yang berjalan pelan namun memikul peran besar dalam keseimbangan ekosistem ini.

Dari Pantai Hingga Sekolah: Kura-Kura Masuk dalam Pusat Perhatian

Hari Kura-Kura Sedunia bukanlah perayaan biasa. Sejak diinisiasi oleh American Tortoise Rescue pada tahun 2000, hari ini menjadi momentum penting bagi para pegiat lingkungan, komunitas sekolah, hingga keluarga pencinta alam. Tahun ini, masyarakat didorong untuk merayakan dengan berbagai cara: mulai dari pesta kostum bertema kura-kura, menggambar “shellfie”, hingga menggelar kelas edukasi dadakan di sekolah-sekolah dasar.

Advertisement

“Ini bukan tentang satu hari. Ini tentang bagaimana kita mengubah cara pandang terhadap spesies yang sering kita abaikan,” ujar Susan Tellem, pendiri American Tortoise Rescue, melalui laman resmi mereka.

Baca Juga :  10 Jenis Durian Populer dengan Cita Rasa dan Warna yang Berbeda

Menjaga Mereka yang Pelan Namun Pasti

Kura-kura dan penyu sering dianggap lamban, bahkan membosankan. Tapi sedikit yang menyadari, mereka adalah petugas kebersihan alami perairan. Spesies seperti Katahwa dan Morpankhi di India menjaga ekosistem sungai tetap bersih, menyaring partikel limbah, dan mengontrol populasi hewan lain.

Tak heran bila negara bagian seperti Uttar Pradesh kini menjadikan konservasi kura-kura sebagai prioritas. Pusat rehabilitasi di Kukrail, Sarnath, hingga suaka alam sepanjang 30 km di Prayagraj telah menjadi rumah bagi lebih dari separuh spesies kura-kura di India.

Sementara itu, Pilibhit Tiger Reserve mengambil langkah lebih jauh. Mereka baru saja meluncurkan kampanye antiperdagangan ilegal, melibatkan ilmuwan, polisi hutan, dan relawan untuk melindungi kura-kura dari ancaman pasar gelap yang masih mengintai.

Ancaman Nyata di Laut dan Darat

Sayangnya, tidak semua kisah kura-kura berakhir manis. Di banyak tempat, mereka masih menghadapi ancaman serius: perusakan habitat, polusi plastik, dan perburuan liar untuk perdagangan hewan peliharaan atau produk tradisional. Tak sedikit kura-kura yang dijadikan suvenir hidup, dipelihara tanpa pengetahuan yang benar, lalu dibuang saat tumbuh besar.

Perubahan iklim pun ikut ambil bagian dalam memperparah situasi. Peningkatan suhu global mempengaruhi kelamin anak penyu, karena suhu pasir tempat mereka bertelur menentukan jenis kelamin. Imbasnya, populasi menjadi tidak seimbang, dan keberlanjutan spesies pun terancam.

Baca Juga :  Tak Selalu Rapuh, Ini Makna Psikologis di Balik Kebiasaan Mudah Menangis

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Terkadang, perlindungan dimulai dari langkah kecil: menolak membeli kura-kura sebagai peliharaan, tidak membuang sampah ke sungai, atau ikut serta dalam kegiatan bersih-bersih pantai. Bagi mereka yang ingin berbuat lebih, banyak organisasi konservasi yang membuka pintu bagi relawan atau donatur.

“Tidak semua dari kita bisa jadi ahli biologi. Tapi kita semua bisa memilih untuk peduli,” kata Roland Friedrich, Direktur UNRWA di Tepi Barat, yang juga aktif dalam kampanye konservasi satwa air.

Menari Bersama Kura-Kura

Hari ini, mungkin di sebuah ruang kelas di Jakarta, seorang anak kecil sedang menggambar kura-kura di buku gambarnya. Mungkin di pantai Bali, sekelompok relawan sedang melepaskan penyu ke laut. Dan mungkin, di tempat yang lebih jauh, kura-kura yang kita selamatkan hari ini sedang perlahan melangkah menuju kehidupan yang lebih aman.

Hari Kura-Kura Sedunia bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah pengingat bahwa setiap makhluk, sekecil dan selambat apa pun, punya hak untuk hidup—dan kita punya tanggung jawab untuk menjaganya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel